Menurut para pemikir, manusia adalah makhluk monodualisme. Terdiri dari unsur jasad dan ruh. Hubungan keduanya seperti sebuah perahu dengan nakhodanya. Kapal tanpa nakhoda tak akan berlayar. Dan nakhoda tanpa kapal, tak bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, substansi manusia bukan pada unsur jasadnya. Yang mendasari nilai kemanusiaan ada pada unsur ruhaniyahnya. Dan ruh tersebut, bersifat metafisik, immateri, tidak berbentuk komposisi, namun memiliki daya dan kekuatan untuk menggerakkan dan memahami sesuatu. Berbeda dengan jasad, yang bersifat materi, berbentuk komposisi, dan tidak kekal. Dari berbagai defenisi manusia setidaknya, pembahasannya berputar pada konsep-konsep tersebut.
Hal ini berbeda dengan konsep barat yang memisahkan ratio dan intellectus. Al-attas menunjukkan bahwa konsep manusia yang jamak dipahami dalam sistem keilmuwan modern adalah, keduanya adalah organ yang berbeda. Padahal dalam islam, keduanya adalah satu yang dikenal dengan ‘aql (organic unity of both ratio and intellectus). Sehingga manusia dimaknai dengan Hayawaan an-Naathiq (Makhluk hidup yang Berpikir) atau Rational Animal. (Lihat SMN. al-Attas, The ConceptOf Education in Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1999, hlm.13-14).
Akhrnya, kita dibingungkan dengan pertanyaan, “Apa perbedaan ruh dengan jiwa ?”. Dalam islam, dijelaskan bahwa, unsur ruh yang telah melekat pada jasad disebut dengan ‘jiwa’. Adapun jika terpisah ia disebut dengan ‘ruh’ itu sendiri. Karena itu, dalam pembahasan kali ini kita akan meninjau teori yang dikemukakan seorang Pemikir islam, sekaligus sebagai ulama dan intelektual, Ibnul Jauzy. Dalam beberapa kitabnya, beliau mencoba menjelaskan lebih detail jiwa manusia tersebut dengan membagi unsur jiwa pada tiga jenis.
Ketiga unsur ini saling berinteraksi dan ketiganya-lah yang menentukan esensi manusia. Ketiga unsur itu adalah aka (juz aqli), amarah, (juz ghadabi), dan hawa nafsu (juz syahwani). Masing-masing unsur itu kembali dibagi kedalam dua daya. Daya baik dan daya buruk. Akal yang memiliki daya yang baik disebut dengan ‘ilmu,dan daya keburukan disebut dengan al-jahl. Unsur amarah, daya kebaikannya berupa ketegasan (keberanian). Dan keburukannya berupa kepengucutan. Sedangkan unsur hawa nafsu, daya baiknya adalah iffah(menjaga harga diri). Daya buruknya adalah syahwat.
Ibnul Jauzy dalam al-Thibb al-Ruh dikutip dari Ahmad Alim, menyebutkan,
واعلم أن لنفس منها : جزء عقلي, فضيله الحكمة, ورذيلته الخهل, وجزء غضبي, فضيلته الحدة, ورذيلته الجبن, وجزء شهواني, فضيلته العفة, ورذيلته اطلاق الهوى.
Ketahuilah bahwa jiwa diantaranya ada unsur akal, keutamaannya adalah hikmah, dan keburukannya adalah kebodohan, dan unsur amarah, keutamaannya adalah pemberani, keburukannya adalah penakut, dan unsur syahwat, keutamaannya adalah iffah, keburukannya adalah menuruti hawa nafsu (Ahmad Alim, Pendidikan Jiwa Menurut Ibn Jauzi dan Relevansinya Dikalangan Para Sufi, Bogor: FPs UIKA, 2011, hlm. 191 [Desertasi])
Dari penjelasan tersebut, kita bisa memasukkan atau memetakan unsru jiwa manusia ke dalam tabel berikut,

 No Diri Manusia Daya Baik (Fadhail) Daya Buruk (Radza’il)
1 Nathiqah (Akal) Ilmu dan hikmah Kebodohan
2 Ghadhab (Obsesi) Keberanian (Syuja’ah) Takut dan Pengecut (Jubn)
3 Syahwat Menjaga harga diri (Iffah) Menuruti Hawa Nafsu (al-Hawa)

Dalam pembentukan keprobadian, Ibnul Jauzy memandang bahwa unsur-unsur tersebut tidaklah berdiri sendiri. Ketiganya saling mempengaruhi dan berinteraksi. Sehingga kepribadian adalah wujud dari interaksi tiga komponen tersebut. Interaksi antardaya jiwa (nathiqah, ghadab, syahwat) berjalan menurut hukum harmonisasi (tanasuq) antara berbagai sistem yang berpusat pada fakultas fikir (nafs an-nathiqah).
Kita juga harus menjelaskan bahwa akal dan kalbu dalam diri manusia adalah satu unsur yang satu. Jika ia berpikir, maka ia menjadi aql, sedangkan jiwa ia merasa, ia menjadi qalbu.  Oleh karenanya dalam al-Qur’an, sering diungkapkan tentang hati yang memahami, misalnya pada QS. Al-A’raf ayat 179. Lahum Quluubun Laa Yafqahuna Bihaa. Artinya unsur atau fakultas yang memahami (faqih) adalah hati. Sebab unsur hati dan akal adalah unsur yang satu.
Jika diilustrasikan, tiga daya nafsani di atas (Akal, Ghadab: mewakili qalbu, dan Syahwat) seperti dengan gula, garam dan bumbu penyedap. Yang menentukan kelezatan masakan adalah komposisi dari gula, garam, dan bumbu tersebut. Jika garam berlebihan, maka masakan akan terlalu asin. Begitu pula untuk gula dan bumbu. Dalam jiwa, daya baik harus diutamakan, sedangkan daya buruk harus diupayakan untuk dikurangi.
Dari sini menjadi terang bahwa, syahwat, obsesi atau kemarahan, serta akal tidaklah bisa dimatikan. Yang bisa adalah diarahkan pada daya yang baik. Sehingga akan muncul keutamaan-keutamaan dari jiwa. Dari sini pula jelas bahwa, usaha riyadhah bathiniyyah (olahjiwa) dengan berusaha untuk mematikan syahwat, dan ghadhab (obsesi) adalah sebuah kesalahan. Sebab tidak akan mungkin, sifat-sifat itu akan hilang dari diri manusia. Jika ia berusaha untuk dimatikan, maka justru manusia tidak akan memperolah kebahagiaan. Sebab makan, berhubungan dengan pasangan, marah dan sebagainya adalah dorongan yang menjadi fitrah bagi manusia. Tugas manusia adalah meletakkannya pada waktu dan kondisi yang tepat. Barulah ia akan melahirkan keutamaan (fadhilah). Disitulah fungsi syariat.
Jika syahwat dilepaskan, maka daya yang muncul adalah Ithlaq al-Hawa, yang berarti memperturutkan hawa nafsu. Dari sini kita bisa mengukur kondisi sosial masyarakat barat modern yang mengutamakan syahwatnya sebagai pemandu dalam hidup. Yang ada adalah rubuhnya harga diri, hancurnya sifat malu, dan rusaknya nilai kemanusiaan itu sendiri. Dengan alasan seni, nilai kebaikan akhlak diterobos. Dan ditayangkan sebagai bentuk kemajuan. Hal ini didasari oleh pemikiran Herbert Read, bahwa estetika, etika dan logika tidak boleh saling mencampuri. Dan tentu, ini sangat bertentangan dengan prinsip kesatuan ilmu. Dimana seharusnya logika, dikembangkan untuk mendukung unsur yang lain. Sebab tujuannya sama, dalam islam. Ketundukan secara penuh pada sang Khalik.
Demikian halnya akal. Ada golongan yang menghilangkan posisi dan peran akal dalam syariat. Yang akibatnya, ia bersandar pada kelemahan akal atau kebodohan. Menerima dalil-dalil secara serampangan tanpa ilmu dan nalar. Sehingga ia justru terjebak dalam sifat yang keliru. Padahal sangat sering ungkapan dalam al-Qur’an memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya. Akan tetapi ada juga golongan aqlaniyyun. Orang-orang yang mendewakan akalnya. Menyandarkan kebenaran hanya pada akal juga akan membawa pada kesesatan. Akal tanpa wahyu akan liar dan berakhir dengan nasib iblis yang menganalogikan dirnya lebih baik dari adam dengan kesombongan. Fitrah akal adalah suci dan bersih. Artinya dengan akal, syariat bisa dipahami, dan iman bisa ditadabburi. Yang dengannya akan semakin membimbing manusia ke jalan yang benar.
Begitu pula obsesi. Jika ia dikembangkan dengan daya yang baik, maka yang muncul adalah keberanian (syuja’ah). Keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, menetapi dan membelanya. Jika ia justru dikembangkan oleh daya yang buruk, maka ia kan menjadi kepengecutan. Obsesi menjadi mati, sehingga vitalitas, spirit atau semangat menjadi hilang, akan membuat kelemahan diri dan keterjajahan. Sebaliknya, jika sifat keberanian terlalu berlebihan, maka akan muncul (dalam istilah indonesia) nekad. Bertindak asal-asalan, tanpa pertimbangan, dan tanpa perhitungan.
Dari konsep unsur jiwa ini setidaknya bisa menjadi landasan bagaiamana pengembangan ilmu psikologi modern. Agar tidak diarahkan pada sekedar ‘gejala jiwa’ saja. Artinya jiwa dipahami secara metafisik sesuai dengan sifatnya yang metafisik. Bukan gejala yang muncul dalam lahiriyah (empirik). Sebab ilmu jiwa, telah banyak disekulerisasi. Ilmu jiwa telah menghilangkan substansi makna jiwa itu sendiri. Yang kahirnya, dari teori, hukum atau asumsi-asumsi itu dibangunlah sistem, metode, dan evaluasi pendidikan yang mencerminkan manusia ‘tanpa jiwa’.
Lebih lanjut menurut Ibnul Jauzy, ketiga daya baik ini-lah (ilmu, keberanian, dan iffah) yang ia sebut dengan ummahat al-akhlaq, induknya kebaikan akhlak. Artinya akhlak-akhlak yang baik seluruhnya diturunkan dari interaksi tiga daya baik ini. Ilmu dan keberanian, serta menjaga harga diri. Pemaaf, jujur, amanah, bersifat lembut, dan seluruh akhlak yang lain adalah turunan dari tiga induk ini. Serta kekurangan dari salah satu dari tiga daya ini, akan melahirkan kekurangan jiwa.
Tiga Daya Buruk, Jahl, Jubn, Hawa juga menjadi induk dari segala macam kerusakan akhlak (al-akhlaq al-mazmumah). Seperti pemarah, dusta, khianat, nifaq, dan lain sebagainya lahir dari tiga induk akhlak yang jelek ini.
Dari sini semakin jelas, bagaimana konsep manusia yang berbeda dengan konsep barat. Konsep manusia dalam islam, lahir dari konsepsi wahyu yang integral dan komprehensif. Sedangkan barat lahir dari spekulasi rasional dan pengamatan inderawi. Dengan demikian kita bisa meraba-raba, atau paling tidak menentukan bagaimana konsep pendidikan manusia seharusnya dibangun. Dari teori, hukum, dan asumsi-asumsi apa ia dibangun. Sebab dari konsep manusia itu akan berpengaruh pada metode, kurikulum, serta evaluasi pendidikan. Juga akan melebar pada konsep-konsep psikologi, ilmu kesehatan, neurosains, bahasa, dan ilmu sosial. Yang jika diajarkand an disebarkan, maka akan terbentuk bentangan pemikiran sekuler tentang jiwa dan manusia itu sendiri. Pada akhirnya, manusia akan diarahkan secara dualistik. Tidak lagi integral. (wallohu a’lam bi ash-showab).
Syamsuar Hamka
Disarikan dari Desertasi “Konsep Pendidikan JIwa Menurut Ibnul Jauzy” oleh Dr. Ahmad Alim, MA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here