Pada masa dahulu, seorang lelaki bertanggung jawab hanya sebagai sosok yang pemberi nafkah keluarga. Dimana pekerjaannya, sekedar mencari faktor-faktor pemenuhan kebutuhan hidup keluarga. Urusan dapur dan merawat keluarga diserahkan sepenuhnya kepada para kaum hawa, temasuk mendidik anak.
Akan tetapi, paradigma tersebut sedikit demi sedikit perlu untuk dilihat kembali. Sebab ternyata seorang ayah memiliki peran yang sangat vital dalam pendidikan anak. Sebab, maraknya tindak kejahatan, kekerasan pada remaja, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba dan berbagi bentuk tindak kriminalitas lainnya menuntut para orang tua bertindak lebih hati-hati dalam mendidik anak. Dengan demikian, mendidik seorang anak juga menjadi kewajiban seorang ayah.
Peran Ayah
Dalam pandangan Islam, peran mendidik anak bukanlah mutlak kewajiban seorang ibu, justru dalam al-Quran lebih banyak menceritakan besarnya peran ayah dalam mendidik anak.  Hal tersebut misalnya bisa kita lihat dalam QS. al-Baqarah ayat 132 dan QS. Yusuf ayat 67 yang menceritakan kisah Luqman, Nabi Ya’qub, dan Nabi Ibrahim yang sedang mendidik anaknya.
Selain itu, seorang Psikolog anak, Elly Risman, berpandangan bahwa, peran ayah dan ibu sama pentingnya dalam mengasuh serta mendidik anak. Pengasuhan ayah dan ibu secara seimbang terhadap anak akan membentuk perilaku positif anak.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 17 dialog pengasuhan yang tersebar di sembilan surat. ke 17 dialog tersebut terbagi : 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara kedua orang tua (tanpa nama) dan anak. Kesimpulannya, ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering, hingga 14 banding 2.
Oleh sebab itu, dalam urusan keluarga ini hendaknya seorang ayah harus belajar dari Luqman al-Hakim, seorang pemuda yang diabadikan namanya dalam Alqur’an.  Sikap-sikap Luqman haruslah dimiliki oleh setiap ayah di dunia ini, agar bisa menjadi ayah yang baik. Tujuan tentu bukan untuk pamer kehebatan, melainkan untuk kepentingan keluarga terutama masa depan anak.
Mari kita perhatikan, bagaimana bahasa Luqman al-Hakim yang diabadikan di dalam al-Qur’an,
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”  (QS. Luqman: 13)
Dalam bahasa yang digunakan Luqman kepada anaknya adalah Yaa Bunayya, dimana dalam kosakata Arab, penggunaan kata tersebut menunjukkan panggilan kasih sayang seorang orang tua kepada anaknya. Berbeda dengan panggilan, Yaa Baniyya atau Yaa Ibniy. Jika kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin lebih sepadan dengan kalimat “Wahai Anakku Sayang”.
Ungkapkan Cinta
Dari petikan panggilan tersebut, kita bisa melihat bagaimana Luqman al-Hakim mengungkapkan rasa cintanya kepada anaknya. Panggilan yang mengucapkan secara langsung kecintaan seorang ayah kepada anaknya. Bagi kita masyarakat yang terpengaruh dalam pola hidup modern mungkin melihat bahwa ungkapan dengan menyebut, “anakku sayang” terlalu lebayatau mungkin dianggap menunjukkan kelemahan seorang ayah, yang maskulin. Padahal ungkapan tersebut bukanlah suatu hal yang tabu. Bahkan ungkapan cinta dari seorang ayah kepada anak perempuannya sangat berpengaruh secara psikologis sehingga anak perempuan tersebut akan merasakan mendapatkan perhatian yang cukup dari sang ayah, dan dampaknya, ia tidak lagi membutuhkan perhatian dari lelaki lain yang bukan mahramnya. Apalagi sangat sering kita jumpai, bagaimana seorang anak gadis yang mudah dipermainkan, dan menjual harga diri dan kehormatannya karena ternyata tidak pernah mendapatkan kasih saying dari orang tuanya.
Sikap dan tata cara Luqman dalam mendidik anak sangat perlu untuk dicontoh oleh para ayah tentang bagaimana cara ia mendidik anak, membesarkan anak, dan tentu saja dalam mengurus keluarga. Apalagi jika melihat kondisi generasi muda sekarang yang sangat begitu minim memperhatikan dalam pendidikan keluarga. Menetapkan peran dan kerja masing-masing posisi setiap anggota keluarga menurut jenis kelaminnya.
Peran vital keluarga seperti di beberapa Negara maju seperti Jepang, menurut penuturan Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin setelah melakukan kunjungan dakwah, beliau menyimpulkan bahwa secara individu masyarakat Jepang memang sangat berkualitas. Kinerja dan kedisplinannya sangat tinggi. Namun ketika dilihat bagaimana kondisi keluarganya, seakan-akan menurut beliau, keluarga tidak lebih dari sekedar ikatan dan kerjasama peran saja, tanpa ikatan emosional. Menurut beliau, hal itu dilihat dari tingginya angka bunuh diri, serta banyaknya orang-orang tua yang mengalami tekanan jiwa (stres) karena tidak lagi diperhatikan oleh anak-anaknya yang sibuk dalam karir dan pekerjaan mereka.
Berdasarkan sebuah penelitian, peran ayah dalam menunjukkan bahwa kedekatan ayah dengan anaknya memberikan efek psikologis yang kuat terhadap anak. Hal tersebut pasti dapat mengoptimalkan kecerdasan anak. Bahkan temaktub dalam buku The Role Of The Father in Child Development  karya Michael Lamb menyatakan, bahwa ayah ideal adalah ayah yang memiliki cukup waktu luang terhadap anak-anaknya.
Untuk itu perlu diperhatikan Jam kerja selama 8 jam sehari, ditambah dengan tidur 8 jam, jika diaplikasikan dalam rumahtangga, akan membuat waktu kebersamaan dengan keluarga akan semakin sedikit (sisa 8 jam). Belum dihitung waktu kerja di luar kantor, lembur, dan lain-lain. Sehingga perlu siasat dalam Rumah Tangga untuk mengganti waktu yang habis terkuras dalam kerja di luar rumah, dengan waktu-waktu berkualitas di dalam rumah. Yang tujuannya tidak lain adalah agar, interaksi antara orang tua dan anak semakin intensif. Aplikasinya, paling efektif bisa dilakukan setelah shalat subuh dan maghrib setiap harinya. Disiapkan waktu khusus untuk diskusi dan pemberian nasihat kepada anggota keluarga. Agar keluarga bisa memiliki visi dan misi bersama, yaitu mendapatkan keridhaan Allah dengan berumah tangga. Yang pada akhrinya adalah meraih syurga Allah Azza wajalla, sekeluarga.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan tidak memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak penyebab utamanya adalah ayah.”
Oleh sebab itu, sesibuk apapun seorang ayah, harus memiliki ruang dan waktu untuk anak-anaknya serta harus mampu menjaga komunikasi secara baik dengan anak, agar seorang anak memiliki kecerdasan emosional dan IQ yang lebih baik.
Ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam pengasuhan anak, sehingga pengasuhan anak tidak hanya dibebankan sebagai kewajiban seorang ibu. Penghayatan peranan ayah dalam pengasuhan anak dapat mencegah terjadinya perilaku kekerasan terhadap anak.
 Syamsuar Hamka (Ketua Departemen Kajian Strategis PP LIDMI)
(dimuat di al-buletin balagh, Jumat 12 Agustus 2016)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here