Syekh Farid al-Anshary al-Maghriby

Di antara sifat-sifat yang paling mengagumkan dan paling baik, serta di antara nama-nama yang paling aneh dan mengejutkan, yang dengannya Allah namai kitab-Nya ini, adalah bahwasanya Allah menyebut kitabnya dengan sebutan “Ruh”. Dan yang demikian itu terdapat dalam firmanNya:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ۝ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus; (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembalinya semua urusan.” (QS Asy-Syu’ara [42]:52-53)

Kata “al-Ruh” dalam al-Qur’an memiliki beberapa kekhususan, kami sebutkan dua di antaranya:

Pertama: Esensi dari ruh tidak dapat diketahui. Dalam urusan ruh, kita hanya dapat mengatakan: “Sesungguhnya ruh termasuk urusan Allah.” Allah berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit’.”  (QS al-Isra [17]:85)

Dan dalam ayat ini (QS Asy-Syu’ara [42]:52) al-Qur’an disebut juga dengan sebutan  رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا.

Kedua: Bahwasanya ruh -dengan izin Allah- adalah penyebab dan pemacu munculnya kehidupan dalam setiap dzat yang hidup. Dengan melekatnya ruh pada jasad, maka jasad itu menjadi hidup. Sebaliknya, jika ruh itu terpisah dari jasad, maka jasad akan mati. Hal ini sebagaimana banyak disebutkan dalam Hadits-hadits Nabi, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ خَلْقَ أَحَدِكُمْ يُجْمَعُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ إِلَيْهِ الْمَلَكَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، فَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَرِزْقُهُ وَأَجَلُهُ وَشَقِيُّ أَمْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ… الحديث

“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga. Kemudian menjadi segumpal daging dalam masa seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus kepadanya malaikat yang diperintahkan dengan empat kalimat, dan dikatakan kepadanya: ‘Tulislah tentang amalnya, rizqinya, ajalnya, dan keadaannya apakah dia akan celaka atau akan bahagia.’ Kemudian ditiupkan ke dalmnya ruh…” (HR al-Bukhary no. 3.208 dan Muslim no. 2.643)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda terkait sifat kematian:

إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ

“Sesungguhnya ruh apabila dicabut, pandangan mata akan mengikutinya” (HR Muslim no. 920)

Dan dalam Hadits shahih disebutkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menjadikan sesuatu yang di dalamnya terdapat ruh sebagai target sasaran. (HR Tirmidzi no. 1.475, Ahmad no. 2.479, dan dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Shahih al-Jami’ no. 6.817)

Sabdanya “Sesuatu yang di dalamnya terdapat ruh” maksudnya adalah burung dan seluruh hewan. Maka kesemuanya itu tidak diperbolehkan untuk dijadikan sebagai sasaran untuk melempar atau menembak, dengan maksud sekedar untuk bersenang-senang dan main-main, bukan untuk kepentingan berburu, yang dalam hal ini terdapat bentuk kesewenangan terhadap ruh dan membunuh makhluk Allah tanpa sebab-sebab yang disyariatkan.

Dan yang menjadi poin penting untuk perkataan kami tadi, adalah bahwa ruh merupakan sebab munculnya kehidupan, dimana kehidupan itu akan ada jika ada ruh, dan menjadi tiada dengan ketiadaannya.

Oleh karena itu al-Qur’an disebut sebagai ruh, karena dia merupakan sebab hidupnya umat, yakni hidupnya hati-hati mereka. Maka tidak akan mati hati orang yang denyut nadinya tercampur dengan ayat-ayat al-Qur’an al-Karim. Sebaliknya, tidak ada kehidupan dalam hati seseorang yang hatinya kosong dari al-Qur’an.

Maka mari bacalah kembali ayat ini dan tadabburilah, kemudian cobalah untuk mencermatinya:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ۝ صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الأمُورُ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus; (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembalinya semua urusan.” (QS Asy-Syu’ara [42]:52-53)

Inilah Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau dahulu pernah mencoba untuk keluar dari kegelapan jahiliyyah, saat beliau merasa tidak puas dengan pandangan-pandangan dan kesesatan-kesesatan mereka. Kemudian beliau mencoba mengasingkan diri dari mereka, namun beliau belum juga menemukan penjelasan tentang misteri kehidupan ini. Sampai turunlah al-ruh dengan membawa al-ruh. Yakni turun kepadanya Jibril dengan membawa al-Qur’an dengan perintah dari Allah. Maka Allah “menghidupkannya” setelah “kematiannya”.

Allah menerangi pandangan Beliau dengan al-Qur’an sehingga Beliau menjadi termasuk orang-orang yang melihat dan memberi petunjuk ke jalan yang lurus, dengan mengikuti rambu-rambunya sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab al-Qur’an ini. Al-Qur’an adalah kitab yang mensifati segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi serta mengabarkan rahasia-rahasia keduanya, mulai dari peristiwa awal penciptaan hingga peristiwa hari kebangkitan, kemudian menggambarkan jalan untuk seluruh manusia di sepanjang masa itu. Yang dengannya seseorang dapat menempuh jalan menuju Rabbnya dan mengenalinya. Maka apakah engkau mendapati sesuetu yang semisal itu wahai teman?

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa wajib bagi kita untuk menjadikan langkah pertama kita dalam menempuh jalan untuk mengenal Rabb, adalah dengan mengenalinya dan menyingkapnya dari al-Qur’an. Oleh karena itu ditemukan ungkapan al-Qur’an yang mengandung perintah untuk membaca al-Qur’an dan mentartilkannya, serta mempelajarinya dengan penuh pentadabburan.

Tadabbur adalah puncak dan hasil dari semua itu. Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang berfikir” (QS Shad [38]:29)

Maka Allah menjadikan pentadabburan dan perenungan sebagai tujuan dari penurunan al-Qur’an. Kalau lah tanpa pentadabburan, tidaklah dapat diraih tadzakkur ‘perenungan’ yang dengannya hati menjadi sadar, emosi menjadi terbangun dengan keimanan. Maka tadabbur adalah manhaj qurani yang kita diperintahkan untuk menghadirkannya ketika membaca al-Qur’an yang agung ini. Dari sini dapat dipahami alasan Allah Ta’ala mencela orang-orang yang membaca al-Qur’an dengan tidak mentadabburinya, Allah Ta’ala berfirman:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

 “Maka apakah mereka tidak mentadabburi al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS an-Nisa [4]:82)

 

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/339

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here