Sa’id ‘Abdul jalil al-Mishry

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mulai membaca al-Qur’an, beliau lsayakan dengan penuh penghayatan, kekhusyukan, dan perenungan.

Dalil tentang kebiasaan beliau tersebut, maupun kebiasaan para sahabatnya dan para umat terdahulu sangatlah banyak dan tidak terhitung. Dorongan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk melsayakannya juga sudah jelas dan terang benderang. Dengan pentadabburan hati menjadi terbuka, tujuan yang benar ayat-ayat aqliyah yang jelas pun dapat ditemukan. Allah ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS Shad [38]:29)

Dengan tadaabur akan membuat seorang pembaca al-Qur’an senantiasa menyibukkan hatinya untuk memikirkan makna-makna ayat yang dia baca. Dia senantiasa menanggapi setiap ayatnya dengan melibatkan perasaan dan emosinya. Dia juga akan memberikan perhatian penuh terhadap segala perintah dan larangan, serta meyakini akan diterimanya hal tersebut.

Maka apabila dia mendapati dirinya di masa lalu termasuk orang yang kurang dalam mengamalkannya, dia akan segera menyesalinya dan memohon ampunan. Namun apabila dia mendapati bahwa dirinya termasuk orang yang mendapatkan taufiq untuk dapat mengamalkannya, maka dia bersyukur dan mengagungkan Allah.

Apabila dia melewati ayat-ayat tentang rahmat Allah, dia bergembira dan berdoa untuk mendapatkannya. Dan apabila dia melewati ayat-ayat tentang azab, maka dia merasa tsayat dan memohon perlindungan darinya, dan demikian seterusnya sesuai dengan makna dari ayat-ayat yang dia baca.

Agar dapat menyingkap makna-makna ayat dan menemukan penjelasannya, maka hal ini dilsayakan dengan cara mempelajari salah satu dari kitab-kitab tafsir. Adanya perbedaan-perbedaan dalam pemahaman ayat di antara manusia bukanlah sesuatu yang perlu dipertengkarkan.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ، فَمَضَى، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ، فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ، فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا، إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

“Saya pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu malam, kemudian beliau memulai shalatnya dengan membaca surat al-Baqarah. Maka saya berkata dalam hati, ‘Beliau akan ruku’ setelah membaca seratus ayat.’ Kemudian hal itu terlewati, maka saya berkata, ‘Beliau akan menyelesaikan surat al-Baqarah dalam satu rakaat.’ Kemudian hal itu pun telah terlewati, maka saya berkata, ‘Beliau akan ruku dengannya.’ Kemudian beliau mulai membaca surat an-Nisa, kemudian membaca surat Ali ‘Imran secara bersambung. Apabila beliau melewati ayat-ayat tentang mensucikan Allah, beliau pun bertasbih. Apabila melewati ayat-ayat tentang do’a, beliau berdo’a. Dan apabila melewati ayat-ayat tentang meminta perlindungan, beliau pun meminta perlindungan…” (HR Muslim no. 772)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Sungguh membaca  Surat al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran dengan mentartilkannya dan mentadabburinya lebih saya sukai daripada membaca al-Qur’an seluruhnya dengan cepat.” (Lih: Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hlm. 52)

Imam al-Suyuthy menyebutkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

“Berhentilah membaca pada ayat-ayat yang mengagumkan (untuk merenunginya), gerakanlah hatimu, dan jangan jadikan tujuan akhirmu adalah (sekedar mencapai) akhir surat.” 

Imam Hasan al-Bashry rahimahullahu mengatakan:

“Demi Allah, tadabbur itu bukanlah sekedar menghafal huruf-hurufnya meski mengabaikan batasan-batasannya (kandungan ajarannya tentang halal dan haram), sehingga salah seorang di antara kalian benar-benar akan berkata: ‘Saya telah membaca al-Qur’an seluruhnya’; namun tidak terlihat pengaruh al-Qur’an pada dirinya baik dalam hal akhlaq maupun amalannya.”

Demikianlah telah menjadi suatu keharusan bagi seorang pembaca al-Qur’an untuk memperhatikan bagaimana kelembutan Allah kepada makhluk-makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna Kalam-Nya. Agar mereka dapat memahaminya, menghadirkan pengagungan kepada Allah subhanahu, mentadabburi kalam-Nya, berusaha untuk memahami makna-maknanya, mengetahui apa yang Allah inginkan dari kita melalui al-Qur’an ini serta mengarahkan jiwanya untuk menerima apa saja yang dibawa oleh al-Qur’an dengan penerimaan yang tercermin dalam kepribadiannya.

Dan dampak al-Qur’an ini juga harus terlihat dalam bentuk perbuatan dan kepatuhan. Kemudian pembaca al-Qur’an juga dituntut untuk senantiasa mencari penjelasan dari setiap ayat-ayatnya, apa saja yang cocok baginya, dan berusaha keras untuk dapat memahaminya.

Ketika dia membaca,

 أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ ۝ أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ ۝

“Maka terangkanlah kepadsaya tentang nutfah yang kamu pancarkan;  Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” (al-Waqi’ah: 58-59)

Maka hendaklah dia berfikir, bagaimana caranya Allah menciptakan nutfah ini? Dan bagaimana caranya Allah menciptakan darinya telinga, mata, tulang dan daging? Apakah ada seseorang yang mengsaya bisa menciptakannya?

Dalam hal ini tidak ada satu pun yang mengsaya sanggup menciptakannya, sehingga tidak diperlukan debat sedikit pun tentangnya. Tidak ada jalan untuk menolak ayat-ayat al-Qur’an ini atau yang semisalnya. Justru dalam momen yang demikian itu ada keharusan bagi kita untuk tunduk bersimpuh secara sempurna di hadapan Allah Rabb semesta alam, yang Maha Esa, Mahasuci lagi Mahatinggi, yang tidak ada satu pun yang berserikat dengan-Nya dalam urusan penciptaan, sehingga tidak boleh kita menyekutukannya dalam hal-hal kerububiyahan dan ibadah kepadaNya.

Ini adalah sebuah tulisan sederhana tentang sesuatu yang telah jelas. Pembicaraan ini dapat dipahami setiap orang terlepas bagaimana tingkat keilmuannya. Untuk memahaminya cukup menggunakan kesadaran dan menghayati ayatnya.

Hendaklah seorang pembaca al-Qur’an menjauhkan dirinya dari hal-hal yang dapat menghalanginya dari memahami al-Qur’an. Hal yang menjadi penghalang terbesar adalah perbuatan dosa dan hawa nafsu. Ilmu itu adalah cahaya yang ada di hati. Dan cahaya Allah tidaklah didapatkan oleh seorang ahli maksiat.

Penghalang lainnya adalah sebagaimana yang telah saya isyaratkan ketika saya memperingatkan kalian dari berlebih-lebihan dalam hal pengucapan huruf. Misalnya bahwa syaithan membisikkan kepada si pembaca al-Qur’an bahwa dia tidaklah melafazhkan hurufnya dengan benar, tidak mengeluarkannya dari makhraj yang semestinya, sehingga dia sibuk untuk membacanya berulang-ulang dan terlalaikan dari memahami maknanya.

Termasuk penghalang terbesar yang menghalangi seseorang dari memahami al-Qur’an adalah hal yang akan disebutkan dalam bagian selanjutnya, yakni mendengarkan nyanyian-nyanyian yang tidak bermanfaat. Karena sebuah “bejana” hanya dapat ditempati jika dia dikosongkan terlebih dahulu dari sesuatu yang bertentangan dengannya. Rahasianya adalah karena bagaimana hati menyimak seperti telinga menyimak. Apabila telinga itu digunakan untuk menyimak sesuatu selain ucapan Allah, maka lenyaplah penyimakannya kepada Kalamullah, sehingga ia pun akan gagal untuk memahaminya.

Milik Allah sajalah segala pujian dan kekuatan, dan hanya dari-Nya sajalah semua taufiq dan penjagaan.

 

Sumber Tulisan: https://ramadaniat.ws/zikr/117

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here