Pertanyaan:

Apa kewajiban seseorang jika dia melihat hilal Ramadhan atau Dzulhijjah namun dia tidak menyampaikannya kepada otoritas terkait?

Jawaban:

Seorang yang melihat hilal pada malam 30 Sya’ban, atau malam 30 Ramadhan, atau malam 30 Syawal, atau malam 30 Dzulqa’dah wajib untuk menginformasikannya ke lembaga berwenang di negerinya, kecuali dia tahu bahwa penampakan bulan baru telah dikonfirmasi oleh orang lain. Hal ini sebagai pengamalan firman Allah Ta’ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Hendaklah kalian saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

“Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah semampu kalian dan dengarlah serta taatilah (pemimpin).” (QS. Al-Taghabun: 16).

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ

“Seorang muslim hendaknya mendengar dan taat (kepada pemimpin).” (HR. Muslim, no. 1839).

Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تأمر عليكم عَبْدٌ

“Aku wasiatkan kalian takwa kepada Allah serta mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian seorang budak.”

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:“Berpuasalah dengan melihatnya,” maksudnya adalah dengan melihat hilal. Lalu beliau bersabda: “Berbukalah (berlebaran) karena melihat hilal, dan berkurbanlah karena melihatnya. Jika mendung, maka sempurnakan bilangan (bulan menjadi 30 hari).”

Tidak ada jalan untuk mengamalkan hadits-hadits ini –setelah taufik dari Allah-, kecuali dengan kerja sama antara kaum muslimin dalam memantau hilal serta menginformasikannya kepada lembaga yang memiliki otoritas untuk menetapkan masuk atau berakhirnya Ramadhan.

Dengan demikian, maka terlaksanalah kewajiban-kewajiban syariat dan tolong-menolong  dalam kebaikan dan takwa.

(Sumber: Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 15/70-72)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/106492

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here