Pertanyaan:

Kami tinggal di Jerman dan masalah mulai muncul ketika seorang imam masjid mengatakan, “Kita akan berpuasa mengikuti Saudi,” tetapi di masjid lain jamaahnya berkata, “Kami akan berpuasa mengikuti Masyarakat Islam Eropa yang seharusnya memiliki perhatian untuk memantau hilal.” Apa pendapat Anda?

Jawaban:

Jika masyarakat Islam Eropa berpedoman pada penampakan hilal, maka lebih baik bagi Anda untuk mengikuti mereka dalam hal memulai dan mengakhiri puasa.

Masalah seperti ini sejak dulu telah ada perbedaan pendapat yang masyhur di kalangan ulama, yaitu apakah setiap negara melakukan rukyat masing-masing dan berpuasa dan lebaran berdasarkan itsbat rukyatnya tersebut, atau  semua orang harus mengikuti mereka yang melihat bulan meskipun ada perbedaan tempat terbitnya hilal dari satu negara ke negara lain?

Ini adalah perbedaan pendapat yang sifatnya diperbolehkan dan didasarkan pada ijtihad. Dan tidak berdosa  siapa pun jika ia mengikuti salah satu dari dua pendapat ini karena mengikuti dalil yang dia anggap lebih kuat.

Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah bahwa perbedaan mathali’ (tempat terbitnya hilal) memiliki pengaruh dalam penentuan Ramadhan; (yang artinya: masing-masing negara memiliki rukyatnya sendiri, tanpa harus mengikuti negara lain-Edt)

Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (1819),

عَنْ كُرَيْبٍ أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ قَالَ : فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا , وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ ، فَرَأَيْتُ الْهِلالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلالَ ، فَقَالَ : مَتَى رَأَيْتُمْ الْهِلالَ ؟ فَقُلْتُ : رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَنْتَ رَأَيْتَهُ ؟ فَقُلْتُ : نَعَمْ ، وَرَآهُ النَّاسُ ، وَصَامُوا ، وَصَامَ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ : لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْت ، ِ فَلا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاثِينَ أَوْ نَرَاهُ ، فَقُلْتُ : أَوَ لا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ ؟ فَقَالَ : لا ، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dari Kurayb, bahwa Umm al-Fadl binti Harits mengutusnya menemui Mu’awiyah di Syam. Dia berkata, “Saya datang ke Syam dan melaksanakan keinginannya. Hilal Ramadan terlihat ketika saya berada di Syam  pada malam Jumat. Kemudian saya kembali ke Madina pada akhir bulan. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada saya tentang hilal. Dia berkata, “Kapan Anda melihat Hilal?” Saya menjawab, “Kami melihatnya pada malam Jumat.” Dia berkata lagi, “Apakah Anda melihatnya?” Saya berkata, “Ya, dan orang-orang melihatnya lalu mereka berpuasa, dan Muawiyah pun berpuasa.” Dia berkata,” Tapi kami melihatnya pada  malam Sabtu, dan kami akan terus berpuasa sampai kami menyelesaikan tiga puluh hari atau kami melihat hilal.” Saya berkata, “Apakah tidak cukup rukyat Muawiyah dan puasanya bagi Anda?” Dia berkata,” Tidak! Seperti inilah yang diperintahkan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ini menunjukkan bahwa ketika suatu negara saling berjauhan, maka setiap negera melakukan rukyat masing-masing. Dan tidak wajib bagi setiap orang di suatu negara untuk berpuasa ketika negara lain melihat hilal.

Wallahu A’lam

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/50412

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here