Pertanyaan:

Apakah i’tikaf sah di semua masjid?

Jawaban:

Para ulama berselisih pendapat tentang sifat masjid yang boleh dipakai beri’tikaf. Sebagian di antara mereka berpendapat sahnya beri’tikaf di semua masjid meskipun di dalamnya tidak ditunaikan shalat berjamaah. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa disyaratkan beri’tikaf di masjid yang ditunaikan shalat berjamaah di dalamnya. Beliau berdalil akan hal tersebut sebagai berikut:

  1. Perkataan ‘Aisyah: “Tidak ada i’tikaf kecuali di dalam masjid jamaah.” (HR. Al- Baihaqy, dinyatakaan shahih oleh al-Albany dalam risalah “Qiyamu Ramadan“)
  2. Perkataan Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang ditunaikan di dalamnya shalat.” (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, (5/212).
  3. Dan jika beri’tikaf di masjid yang tidak ditunaikan shalat berjamaah di dalamnya, maka dapat berdampak pada salah satu dari dua perkara:

Pertama: Bisa jadi dia meninggalkan shalat berjamaah, padahal laki-laki tidak boleh meninggalkan shalat berjamaah tanpa udzur syar’i.

Kedua: Dan bisa jadi dia lebih sering keluar menunaikan shalat lima waktu di masjid lain. Dan hal ini menafikan i’tikaf. (Lih: “al-Mugni”, 4/461).

Syekh Ibnu ‘Utsaimin dalam al-Syarh al-Mumti, (6/312) mengatakan:

“Tidak sah beri’tikaf kecuali di masjid yang ada shalat jum’ahnya.”

Apakah yang beliau maksud adalah masjid yang ditunaikan shalat Jum’at atau yang ditunaikan shalat berjamaah?

Yang dimaksud adalah masjid yang ditunaikan shalat berjamaah di dalamnya dan tidak disyaratkan masjid yang ditunaikan shalat Jum’at. Karena masjid yang tidak ditunaikan di dalamnya shalat berjamaah, tidak tepat dinamakan masjid dengan pengertian yang umum. Seperti masjid yang sudah ditinggalkan oleh masyarakat atau yang dibiarkan saja.

Maka tidak disyaratkan beri’tikaf di dalam  masjid yang didirikan shalat Jum’at, karena itu tidak berulang sehingga tidak merusak i’tikaf. Berbeda dengan shalat lima waktu, ia berulang setiap hari dan malam. Syarat ini -maksudnya masjid harus ditunaikan di dalamnya shalat berjamaah- berlaku jika yang beri’tikaf adalah laki-laki. Sementara jika ia wanita, maka diperbolehkan i’tikaf di semua masjid meskipun tidak ditunaikan shalat berjamaah, hal itu karena shalat jamaah tidak wajib baginya.

Ibnu Qudamah dalam “al-Mughni” mengatakan:

“Bagi wanita diperbolehkan beri’tikaf di semua masjid dan tidak disyaratkan ditunaikan shalat berjamaah di dalamnya. Karena itu tidak wajib baginya. Dan ini juga pendapat al-Syafi’i.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin dalam al-Syarh al-Mumti, (6/313) mengatakan:

“Kalau seorang wanita beri’tikaf di masjid yang tidak ditunaikan shalat berjamaah, maka hal tersebut tidak mengapa baginya karena dia tidak diwajibkan ikut shalat jamaah.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/48985

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here