Pertanyaan:

Apakah wanita boleh beri’tikaf di dalam masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan?

Jawaban:

Ya, boleh bagi wanita beri’tikaf di dalam masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Bahkan i’tikaf itu sunnah bagi laki-laki maupun perempuan. Dahulu Ummahat al-Mu’minin Radhiyallahu ’anhunna beri’tikaf bersama Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam semasa hidupnya dan mereka juga beri’tikaf setelah wafatnya Shallallahu ’alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh al-Bukhary, 2026 dan Muslim, 1172 dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha istri Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam biasanya beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah kepergiannya.”

Dalam Aun al-Ma’bud dikatakan: “Hadist tersebut menunjukkan bahwa para wanita sama halnya dengan para laki-laki dalam beri’tikaf.”

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah mengatakan:

“I’tikaf disunahkan bagi kaum laki-laki dan perempuan. Berdasarkan riwayat dari Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bahwasanya beliau biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan dan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan menjadi ketetapan baginya. Dahulu beberapa istri-istri beliau beri’tikaf bersamanya dan mereka tetap beri’tikaf setelah wafatnya Shallallahu ’alaihi wa sallam. Tempat melaksanakan i’tikaf adalah di dalam masjid yang ditunaikan shalat berjamaah di dalamnya.”

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/37698

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here