Soal:

Orangtua saya berbuka (tidak berpuasa) selama sebulan penuh di bulan Ramadhan karena tidak mampu berpuasa, karena telah lanjut usia dan sakit. Kemudian beliau wafat sebelum mengqadha’ puasa sebulan tersebut. Kemudian kami membayar kafarat untuknya dengan mengeluarkan harta (uang) untuk diberikan kepada orang-orang fakir, kemudian kami mendengar bahwasanya kafarat tidak diperbolehkan kecuali dengan makanan. Apakah kami harus mengulangi pemberian kafarat dan berapa kadar yang dikeluarkan?

Jawaban:

Pertama:

Jumhur ulama fikih dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak diperbolehkan mengeluarkan uang dalam fidyah puasa, dan yang wajib adalah mengeluarkannya dalam bentuk makanan, berdasarkan Firman Allah Ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang tidak sanggup menjalankannya (puasa) untuk membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (al-Baqarah :184).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’ anhuma mengatakan:

“Yaitu laki-laki dan perempuan yang telah lanjut usia yang tidak mampu berpuasa, maka mereka memberi makan satu orang miskin sebagai penggantinya setiap hari.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhary no. 4505).

Disebutkan dalam Fatawa al-Lajnah al-Daimah (10/198):

“Apabila para dokter telah memutuskan bahwa penyakit yang dikeluhkannya tidak ada harapan untuk sembuh dan membuatnya tidak mampu berpuasa, maka Anda wajib memberi makan satu orang miskin untuk sehari, sebanyak 1/2 sha’ berupa makanan pokok negeri tersebut, seperti kurma atau yang lainnya, untuk menggantikan (puasa) pada bulan-bulan yang telah lalu dan yang akan datang.

Jika Anda telah memberikan sajian makan malam atau makan siang kepada orang miskin sesuai jumlah hari yang menjadi kewajibanmu, maka hal itu telah mencukupimu. Adapun mengeluarkannya dalam bentuk uang, maka tidak diperbolehkan.”

Maka orang yang telah lanjut usia atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh mengeluarkan makanan kepada orang miskin untuk sehari yang dia tidak berpuasa,  yaitu setengah sha’ berupa makanan pokok negeri tersebut, seperti kurma, beras atau yang lainnya berupa makanan pokok. Satu sha’ sendiri setara dengan 1,5 kg.” (Lih: Fatawa Ramadhan, hal. 545).

Dan ia diperbolehkan mengeluarkan semuanya secara sekaligus di akhir bulan sebesar 45 kg berupa beras -misalnya-. Adapun kalau ia membuat makanan dan mengundang orang miskin, maka hal ini juga baik, sebagaimana perbuatan Anas radhiyallaahu ‘anhu.

Kedua:

Apabila Anda telah mengeluarkan uang -berdasarkan pendapat orang yang memberi fatwa akan hal itu dari kalangan para ulama-, maka Anda tidak diharuskan untuk mengulanginya. Adapun kalau Anda mengerjakan hal berdasarkan padangan pribadi Anda (bukan mengikuti ulama), maka Anda harus mengeluarkannya lagi. Ini untuk lebih berhati-hati dan melepaskan tanggungan orang tua kalian. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya.

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/93243

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here