Soal:

Apa hukum kafarat bagi wanita yang digauli oleh suaminya di siang hari Ramadhan apabila ia tidak mampu untuk melaksanakan puasa dua bulan berturut-turut karena tidak mampu dan mengalami haid?

Jawaban:

Pertama:

Berjima’ di siang hari Ramadhan merupakan pembatal puasa yang paling besar, dan wajib bagi orang yang melakukannya untuk memohon ampun, bertaubat, dan mengqadha’ hari tersebut serta melaksanakan kafarat.

Dan kafarat untuk perbuatan tersebut, secara berurutan adalah: Membebaskan budak. Jika tidak menemukannya, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak sanggup, maka memberi makan enam puluh orang misikin. Tapi tidak diperbolehkan berpindah dari satu kafarat ke kafarat berikutnya, kecuali dalam keadaan lemah dan tidak mampu.

Kedua:

Apabila seorang wanita ketika berjima’ diberi udzur (dimaafkan) karena sebab dipaksa, lupa, atau ketidaktahuannya terhadap keharaman berjima’ di siang hari Ramadhan, maka tidak ada dosa baginya dan tidak ada kewajiban kafarat atasnya.

Dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah sahnya puasa yang dilakukan pada hari ketika ia dipaksa untuk berjima’, dan jika ia ingin lebih berhati-hati, hendaklah ia mengqadha’ hari tersebut, sebagai bentuk penjagaan terhadap pendapat ulama yang mewajibkannya, maka hal ini lebih baik.

Adapun kalau ia berjima’ sebagai bentuk kepatuhan terhadap suaminya dan ia tidak punya udzur, maka ia wajib membayar qadha’ dan kafarat menurut pendapat Jumhur ulama.

Ketiga:

Apabila ia tidak mampu karena sebab masalah kesehatan yang jelas, maka kafarat baginya adalah: Memberi makan enampuluh orang miskin, yang dikeluarkan oleh dirinya sendiri atau diwakili oleh suaminya. (Lihat: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah 9/245).

Keempat:

Datangnya waktu haid setelah memulai puasa tidak dianggap memutuskan urutan pada puasa kafarat. Bahkan seorang wanita tidak boleh berpuasa pada saat haid. Dan apabila ia telah suci, maka ia melanjutkan puasa yang telah lalu dan menyempurnakannya jadi 2 bulan, karena haid merupakan perkara yang telah ditakdirkan bagi keturunan Adam. Tidak ada campur tangan mereka dalam hal ini, dan pendapat ini telah disepakati oleh para ulama.

Berdasarkan hal ini, maka tibanya masa haid setiap bulan atau karena ia takut menjadi beban, tidak dianggap sebagai udzur yang terpandang untuk berpindah kepada pilihan kedua (memberi makan). Ia tetap wajib berpuasa walaupun akan ada masa tibanya haid, dan kewajiban berpuasa tidak akan gugur kecuali karena benar-benar tidak mampu melakukannya.

Wallaahu a’lam.

 

Link : https://islamqa.info/ar/222485

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here