Soal:

Saya mengalami mimpi basah dalam keadaan berpuasa, akan tetapi ketika saya bangun, saya tidak melihat adanya sesuatu keluar (mani). Saya telah mengalami mimpi basah tanpa ejakulasi. Apakah saya tetap harus mandi junub dan menyempurnakan puasaku? Ataukah saya menyempurnakan puasa tanpa mandi junub? Ataukah puasa saya telah batal?

Jawaban:

Pertama:

Siapa yang mengalami mimpi basah, namun ketika ia bangun, ia tidak melihat adanya bekas mani di pakaiannya, maka tidak ada keharusan mandi junub baginya.

Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughny:

“Apabila seseorang merasa telah mengalami mimpi basah, namun ia tidak melihat adanya mani, maka tidak ada kewajiban mandi junub atasnya. Ibnu al-Mundzir mengatakan: ‘Telah berijma’ semua ulama yang kukenal (tentang hal itu…’ Lalu diriwayatakan oleh Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim berkata:

‘Wahai Rasulullah, apakah ada kewajiban untuk mandi junub bagi wanita apabila ia mengalami mimpi basah?’ Rasulullah menjawab: ‘Ya, apabila ia melihat air (mani).’ (Muttafaq ‘alaihi)

Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada kewajiban mandi junub, kecuali jika Anda melihat air (mani).”

Kedua:

Mimpi basah tidaklah membatalkan puasa, karena hal ini terjadi tanpa kehendak orang yang berpuasa.

Al-Nawawi berkata dalam al-Majmu’:

“Apabila seseorang mengalami mimpi basah, maka puasanya tidaklah batal berdasarkan ijma’, karena ia tidak menghendakinya. Ini seperti jika ada lalat yang terbang kemudian masuk ke dalam perutnya tanpa kehendaknya. Inilah yang diketahui melalui pendalilan masalah ini. Adapun hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

لا يُفْطِرُ مَنْ قَاءَ وَلا مَنْ احْتَلَمَ وَلا مَنْ احْتَجَمَ

Artinya:

‘Tidaklah batal puasa orang yang muntah, mimpi basah, dan berbekam’; maka ini adalah hadits lemah yang tidak boleh dijadikan sebagai dalil.”

Ibnu Qudamah berkata dalam al-Mughny (4/363):

“Apabila ia mengalami mimpi basah, maka tidaklah batal puasanya, karena hal ini di luar kehendaknya. Ini sama dengan masuknya sesuatu ke dalam kerongkongan seseorang yang sedang tidur.”

Syaikh Ibn Baz pernah ditanya dalam Majmu’ al-Fatawa (15/276):

“Seseroang yang tidur di siang hari Ramadhan dan mengalami mimpi basah dan keluar mani, apakah dia harus mengqadha’ hari tersebut?”

Maka beliau menjawab:

“Tidak ada kewajiban qadha’ atasnya, karena mimpi basah di luar kehendaknya. Akan tetapi ia tetap wajib melaksanakan mandi junub jika ia mendapati mani.”

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya dalam Fatawa al-Shiyam (hal. 284) tentang seseorang yang mengalami mimpi basah pada siang hari Ramadhan?

Maka beliau menjawab:

“Puasanya tetap sah, karenaa mimpi basah tidaklah membatalkan puasa, karena hal ini di luar kehendaknya, dan karena pena telah diangkat darinya saat tidur.”

Disebutkan pula dalam Fatawa al-Lajnah al-Daimah (10/274) :

“Barangsiapa yang mengalami mimpi basah dalam keadaan berpuasa atau berihram untuk haji atau umrah, maka tidak ada dosa atasnya dan tidak pula ada kewajiban kafarat. Hal ini juga tidak mempengaruhi puasanya, hajinya, dan umrahnya. Namun wajib atasnya untuk melaksanakan mandi junub  Apabila mengeluarkan mani.”

Link : https://islamqa.info/ar/38623

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here