Pertanyaan:

Apa pahala orang yang beri’tikaf?

Jawaban:

Pertama:

I’tikaf hukumnya dianjurkan dan ia termasuk amalan taqarrub ‘mendekatkan diri’ kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal itu telah terbukti secara valid, terdapat banyak sekali hadits yang menyerukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan ibadah-ibadah sunnah. Semua hadits-hadits itu secara umum telah mencakup semua ibadah termasuk di antaranya ibadah i’tikaf. Di antara hadits tersebut adalah firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ

“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya.” (HR. Al-Bukhary no. 6502)

Kedua:

Terdapat banyak sekali hadits terkait dengan keutamaan i’tikaf dan penjelasan tentang pahalanya. Akan tetapi semua itu lemah atau palsu. Abu Daud Rahimahullah mengatakan, “Saya bertanya kepada Ahmad (maksudnya Imam Ahmad bin Hambal), “Apakah anda mengetahui suatu (riwayat) tentang keutamaan i’tikaf?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali satu (riwayat) yang lemah.” (Lih: Rasail Abi Daud, hal. 96)

Di antara hadits-hadits ini adalah:

  1. Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 1781 dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ’anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata tentang orang yang beri’tikaf, “Dia menahan dosa-dosa dan dialirkan kepadanya kebaikan-kebaikan seperti orang yang melakukan semua kebaikan.” (Dilemahkan oleh al-Albany dalam kitab “Dhaif Ibn Majah”. Kata ya’kifu al-dzunub’ maksudnya adalah menahan dosa, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Sindy).
  2. Diriwayatkan oleh ath-Thabarany, al-Hakim, al-Baihaqy dan dilemahkannya, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

“Barangsiapa beri’tikaf sehari mengharap wajah Allah, maka Allah jadikan antara dia dan neraka tiga parit yang mana (jaraknya) lebih jauh daripada (jarak) antara timur dan barat.” (Dinyatakan lemah oleh al-Albany dalam “al-Silsilah al-Dha’ifah” no. 534. Kata ‘al-khaafaqani’ adalah timur dan barat)

  1. Diriwayatkan oleh ad-Dailamy, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beri’tikaf dengan penuh keimanan dan pengharapan (akan pahala), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (Dinyatakan lemah oleh al-Albany dalam “Dhaif al-Jami”, 5442).
  2. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan dilemahkannya, dari Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang melakukan i’tikaf sepuluh hari pada bulan Ramadan, ia bagaikan melakukan dua haji dan dua umrah.” (Disebutkan oleh al-Albany dalam “al-Silsilah al-Dhaifah” no. 518 dan berkata, “Ini hadist palsu.”)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49003

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here