STATUS HADITS TENTANG KEUTAMAAN RAMADHAN: “Permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka…”

Pertanyaan:

Bagaimana status hadits yang diriwayatkan oleh Salman al Farisy radhiyallahu ‘anhuberikut ini:

خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: “أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ…” (الحديث)

Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam pernah berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban, beliau bersabda: “Wahai manusia, hampir datang kepada kalian bulan agung nan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah wajibkan untuk berpuasa pada bulan ini, dan Allah jadikan pada malam harinya sebagai amalan yang sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan satu kebaikan maka dia bagaikan menunaikan kewajiban pada bulan lainnya. Dan barangsiapa yang menunaikan kewajiban di dalamnya, maka dia bagaikan menunaikan tujuh puluh kewajiban pada bulan lainnya. Inilah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka”.

 

Jawaban:

Hadits ini -dengan redaksi di atas- diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih Ibnu Khuzamah no. 1887, hal. 3/191,  seraya berkomentar: “Jika hadits ini shahih”.

Pada sebagian referensi seperti yang terdapat pada kitab al Targhib wa al Tarhib karya al-Mundziry di hal. 2/95, kata ‘jika’ tidak tercatat sehingga orang-orang mengira Ibnu Khuzaimah berkata: “Hadits ini shahih”, padahal beliau ragu untuk menshahihkan hadits tersebut.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Muhamily dalam kitab al-Amaly no. 293, al-Baihaqy dalam kitab Syu’ab al-Iman hal. 7/216 juga dalam kitab Fadhail al-Auqat no. 37 hal. 146, Ibnu Hibban dalam kitab al-Tsawab sebagaimana dikutip oleh al-Sa’aty di kitab al-Fath al-Rabbany hal. 9/233, dan disebutkan oleh al-Suyuthy dalam kitab al-Dur al-Mantsur sembari berkata: “Hadits ini diriwayatkan oleh al-‘Uqaily dan dia melemahkannya, juga diriwayatkan oleh al-Asbahany dalam kitab al Targhib”.

Selain itu, hadits ini juga disebutkan oleh al-Muttaqy dalam kitab Kanz al-Ummal hal. 8/477.

Semua riwayat yang sudah disebutkan di atas berasal dari jalur Sa’id bin al-Musayyab dari Salman al-Farisy. Hadits ini sanadnya lemah karena terdapat dua cacat di dalamnya, yaitu:

  1. Sanadnya terputus, karena Said bin al-Musayyab tidak mendengarkan hadits ini dari Salman al-Farisy radhiallahu ’anhu.
  2. Di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jad’an. Ibnu Sa’ad berkomentar tentang perawi tersebut: “Dia lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah(argumen)”. Dia juga dilemahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, al-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, al-Jurjani dan yang lain sebagaimana disebutkan dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala5/207.

Abu Hatim al-Razy menyatakan bahwa hadits ini adalah munkar. Pernyataan yang sama juga dikatakan oleh al-‘Ainy dalam kitab ’Umdat al-Qari hal. 9/20 dan Syaikh al-Albany dalam kitab Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah Wa al-Maudhu’ah no. 871 hal. 2/262.

Dari pemaparan di atas, maka jelas sudah bahwa sanad hadits ini lemah dan semua jalur riwayatnya juga lemah. Para ulama hadits juga menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits munkar.

Selain itu, hadits ini juga mengandung beberapa redaksi yang diragukan kebenarannya, seperti pembagian bulan menjadi tiga bagian, yaitu sepuluh pertama adalah rahmat, sepuluh ke dua adalah ampunan, dan sepuluh ke tiga adalah pembebasan dari api neraka. Pembagian ini tidak didukung oleh dalil sama sekali, bahkan bertentangan dengan dalil lain seperti dalil tentang keutamaan Allah yang sangat luas, dalil tentang Ramadhan yang semua harinya adalah rahmat dan ampunan, dan  dalil tentang pembebasan sejumlah hamba pada setiap malam dan setiap berbuka.

Selain pembagian di atas, terdapat pula redaksi yang diragukan kebenarannya, seperti:

“Barangsiapa yang mendekatkan diri di dalamnya dengan satu kebaikan maka dia bagaikan menunaikan kewajiban pada bulan lainnya”.

Ungkapan ini tidak dibangun di atas dalil sama sekali, karena amalan sunnah tetaplah sunnah dan yang wajib tetaplah wajib, baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya.

Juga redaksi yang berbunyi:

“Dan barangsiapa yang menunaikan kewajiban di dalamnya, maka dia bagaikan menunaikan tujuh puluh kewaijban pada bulan lainnya”.

Penentuan bilangan ini perlu dipertanyakan karena bertentangan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa satu kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali, baik di bulan Ramadhan maupun selainnya. Dan tidak ada yang pengecualian dalam hal ini selain puasa, karena pahala puasa sangat besar tanpa batas. Hal ini berdasarkan hadits Qudsi yang berbunyi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ (متفق عليه)

“Semua amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa karena sesungguhnya dia adalah untukKu dan Aku yang akan membalasnya.” (Muttafaq ‘alaih).

Kesimpulannya adalah hendaknya berhati-hati terhadap hadits-hadits yang dha’if, mengecek ulang status dan derajatnya sebelum memutuskan untuk menyampaikannya, dan mencukupkan diri dengan hadit-hadits yang shahih dalam masalah keutamaan Ramadhan.

Semoga Allah memberi taufik kepada kita semuanya dan menerima puasa, qiyam dan seluruh amalan kita.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/21364

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here