Pertanyaan:

Jika saya hendak bepergian pada suatu tempat yang jaraknya lebih dari 100 mil atau lebih, maka bolehkahkami shalat sebelum bepergian? Karena saya yakin bahwa saya cukup mengqashar shalat 2 raka’at saja. Benarkah seperti itu?

Jawaban:

Pertama:

Tidak disebutkan dalam syariat jarak yang menjadi batasan bepergian. Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dalam beberapa pendapat. Yang benar dari pendapat-pendapat tersebut adalah bahwa patokan ukuran jarak bepergian kembali pada ‘‘urf suatu negri. Sehingga, jika dalam ‘urf masyarakat sebuah perjalanan dikategorikan sebagai “bepergian”, maka ia terhitung sebagai bepergian, sehingga ia boleh mengqashar shalat dan tidak berpuasa pada saat itu.

Pendapat inilah yang dipilih oleh para ulama muhaqqiq (peneliti), diantaranya Ibnu Qudamah rahimahullah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Kedua:

Seorang musafir tidak mendapatkan keringanan (keringanan) hukum-hukum bepergian hingga ia keluar dari daerah tempat ia menetap dan melewatinya. Ia tetap dapat melaksanakan keringanan itu selama ia masih menjadi seorang musafir, hingga ia kembali ke daerahnya.

Oleh karenanya, seorang musafir tidak boleh mengqashar shalat kecuali ia telah melewati bangunan-bangunan perbatasan daerahnya. Ia tidak boleh mengqashar shalatnya jika ia masih berada di dalam rumah atau berada di daerah mukimnya itu.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum tidak berpuasa dalam masalah ini. Diantara mereka ada yang membolehkan seseorang tidak berpuasa jika ia telah berniat kuat dengan sungguh-sungguh untuk bepergian dan menyiapkan kendaraannya.

Akan tetapi mayoritas ulama melarang hal itu, sehingga mereka tidak memperbolehkan seseorang berbuka kecuali jika ia telah boleh menqashar shalatnya, yaitu melewati bangunan-bangunan perbatasan daerahnya. Pendapat ini lebih kuat dan lebih mendekati sikap kehati-hatian.

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Apakah dipersyaratkan bahwa ia harus sudah keluar dari desanya jika ia telah bertekad melaksanakan perjalanan hingga  membolehkan ia tidak berpuasa?”

Beliau menjawab:

“Dalam hal ini terdapat dua pendapat dari kalangan salaf.

Diantara ulama ada yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa jika ia telah bersiap-siap melaksanakan perjalanan, dimana tidak tersisa darinya kecuali menaiki kendaraannya saja. Mereka menukil perkataan ini dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dimana ia pernah melakukannya. Jika Anda merenungi firman Allah Azza wa Jalla:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)

Anda akan mendapati bahwa pendapat ini adalah pendapat yang salah, sebab pada kondisi ini ia belum berada dalam kondisi bepergian. Ia saat itu masih seorang yang berstatus mukim.

Oleh karenanya, ia tidak boleh membatalkan puasanya kecuali ia telah keluar dari rumah perkampungannya. Adapun jika ia belum keluar perkampungan itu, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya.

Jadi yang benar, ia tidak boleh membatalkan puasanya hingga ia meninggalkan kampungnya. Oleh karena itu, ia tidak boleh mengqashar shalatnya hingga ia keluar dari perkampungannya dan tidak boleh membatalkan puasa hingga ia keluar dari kampungnya.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’: 6/346)

Jadi, tidak boleh bagi seorang yang telah berniat kuat bepergian mengqashar shalatnya di rumahnya, sebab bepergian adalah bagian dari hukum-hukum bepergian dan (syarat untuk mendapatkan) keringanan.

Adapun seorang yang berniat kuat  dan belum keluar perkampungannya, maka ia masih berstatus mukim karena masih berada di dalam rumahnya dan belumlah menjadi seorang musafir. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Imam al-Nawawy rahimahullah berkata:

“Menurut Madzhab kami (Syafi’iyyah), jika seseorang telah keluar gedung perbatasan suatu daerah, maka ia boleh mengqashar. Ia tidak boleh mengqasharnya jika belum meninggalkannya, walau ia telah keluar dari rumahnya. Ini merupakan pendapat Malik, Abu Hanifah, Ahmad dan mayoritas ulama.

Al-Hafizh Ibnu al-Mundzir meriwayatkan dari al-Hartis bin Abi Rabi’ah bahwa ia ingin berbepergian. Maka, ia pun shalat bersama mereka 2 raka’at di rumahnya, sementara diantara mereka ada al-Aswad bin Yazid dan selainnya dari kalangan murid Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata:

‘Kami meriwayatkan secara makna dari Atha’ dan Sulaiman bin Musa, ia berkata: Mujahid berkata: ‘Seorang musafir tidak boleh mengqashar shalatnya hingga masuk waktu malam.’

Ibnu al-Mundzir berkata: ‘Kami tidak mengetahui ada seorang yang sepakat dengan mereka. Al-Qadhy Abu Thayyib dan selainnya, dari Mujahid bahwa ia berkata:

‘Jika seseorang keluar pada siang hari, maka ia tidak boleh mengqashar shalatnya hingga masuk waktu malam dan jika ia keluar pada malam hari maka ia tidak boleh mengqasharhingga masuk waktu siang.’

Dari Atha’ bahwasanya ia berkata: ‘Jika seseorang telah melewati dinding rumahnya maka ia boleh mengqashar shalatnya.’

Dua madzhab ini adalah madzhab yang keliru, sedangkan madzhab Mujahid menyelisihi hadits-hadits yang shahih mengenai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengqasharshalatnya di Dzul Hulaifah ketika beliau keluar dari Madinah. Sedangkan perkataan Atha’ dan orang-orang yang sepakat dengannya, menyelisihi makna bepergian.” (Lih: al-Majmu’: 4/228)

Dibolehkan bagi seorang yang hendak bepergian menjamak antara kedua shalatnya walau belum bepergian, jika ia merasa akan terasa berat melaksanakan shalat yang kedua dalam perjalanan bepergian. Dalam kasus ini hanya diperbolehkan menjamak, adapun mengqashar maka tidak dibolehkan.

Penting diingat bahwa menjamak shalat tidak identik dengan mengqashar shalat.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

“Jika telah masuk waktu shalat zhuhur dan Anda belum bepergian, maka wajib bagi Anda melaksanakan shalat zhuhur secara sempurna tanpa mengqashar.

Adapun shalat ashar, jika seandainya perjalanan Anda akan selesai pada waktu ashar, maka Anda juga melaksanakan shalat ashar pada waktunya jika Anda hendak melaksanakannya.

Namun, jika bepergian berlanjut dari waktu zhuhur sampai terbenamnya matahari, dimana waktu ashar akan habis sementara Anda masih dalam perjalanan dan Anda tidak bisa turun sebagaimana yang Anda katakan bahwa pemilik mobil tidak berhenti di tempat pemberhentian, maka tidak mengapa menjamak kedua shalat itu pada kondisi seperti ini. Sebab udzur seperti ini membolehkan jamak, akan tetapi tetap dengan menyempurnakan shalat (tidak mengqashar).

Jika Anda melaksanakan shalat ashar bersamaan dengan shalat zhuhur secara jamak taqdim dan Anda masih berada di rumah Anda, lalu Anda ingin bepergian setelahnya, maka Anda harus melaksanakan shalat zhuhur dan ashar secara sempurna, setiap shalat dilakukan dengan 4 raka’at. Tidak mengapa dilakukan secara jamak. Sebab jamak dibolehkan pada kondisi seperti ini. Adapun qashar, maka hal itu belum masuk waktunya. Sebab qashar hanya boleh dilakukan setelah berpisah dengan bangunan pembatas daerah tempat Anda bermukim.” (Lih: Al-Muntaqa min Fatawa al-Syaikh al-Fauzan: 3/62)

Hukum-hukum bepergian dimulai ketika seseorang keluar dari wilayah seseorang bermukim. Yaitu ketika ia melewati bangunan pemabatas suatu wilayah maksudnya memisahkan diri dari bangunan-bangunan yang ada. Jika seperti itu, maka hukum-hukum bepergian telah mulai berlaku padanya; berupa bolehnya menqashar shalat, tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dan selainnya dari hukum-hukum bepergian itu. Adapun jika seseorang masih berada dalam area kotanya, maka berarti hukum-hukum terkait bepergian belum berlaku…” (Lih: Al-Muntaqa Min Fatawa al-Syaikh al-Fauzan: 3/62-63)

Wallahu a’lam

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/69816

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here