Pertanyaan:

Saya akan melakukan perjalanan -dengan izin Allah-  ke Italia di kota Milan. Hal itu karena amanah kerja dan untuk menyelesaikan proyek baru dari perusahaan. Masanya cukup panjang, sampai 3 bulan lamanya. Sementara bulan Ramadhan yang mulia akan segera datang ketika kami berada di sana.

Pertanyaan saya, apakah saya tetap wajib berpuasa?

Demikian pula jika saya tidak berpuasa, maka apa yang wajib bagi saya ketika menqadha’nya?

Jawaban:

Siapa yang melakukan perjalanan pada suatu wilayah dan ia berniat untuk menetap di sana lebih dari 4 hari, maka ia dihukumi sebagai seorang yang mukim, berdasarkan pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Oleh karenanya, dalam kondisi ini, ia wajib melaksanakan apa yang menjadi kewajiban masyarakat setempat, berupa puasa dan penyempurnaan shalat.

Disebutkan dalam fatwa Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiyah dan Fatwa (Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 8/99):

“Perjalanan yang disyariatkan untuk mendapatkan rukhshah (keringanan) safar adalah yang dianggap sebagai perjalana berdasarkan ‘urf. Ukurannya kira-kira mencapai 80 Km. Barangsiapa melakukan perjalanan lalu mencapai bahkan melampaui jarak ini, maka ia mendapatkan rukhshah berupa:

  1. Kebolehan mengusap khuf 3 hari 3 malam,
  2. Menjamak dan mengqashar
  3. Dan tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan.

Namun, jika musafir ini meniatkan diri untuk menetap selama lebih dari 4 hari, maka ia tidak mendapatkan rukhshah safar. Ia mendapatkan rukhshah safar jika ia hanya berniat menetap selama 4 hari.

Seorang musafir yang menetap di suatu negri akan tetapi ia tidak mengetahui kapan ia akan meneyelesaikan keperluannya dan belum menentukan waktu berapa lama ia menetap, maka ia juga tetap mendapatkan rukhshah safar walau ia lama menetap di sana. Tidak ada perbedaan safar yang dilakukan di darat atau di lautan.”

Olehnya, yang wajib bagi Anda adalah berpuasa pada bulan Ramadhan dan menyempurnakan shalat selama perjalanan ini. Kecuali jika Anda berpindah dari satu kota ke kota lainnya, dan perjalanan itu juga mencapai 80 Km, maka boleh bagi Anda tidak berpuasa pada saat safar, sebagaimana dibolehkannya Anda menjamak dan mengqasharshalat.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/105443

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here