Pertanyaan:

Di masjid kami ada dua kamar terpisah di luar masjid yang mana kami terbiasa shalat di tempat itu, dan semenjak pembangunan masjid telah selesai, kami pun masih shalat di dalamnya. Apakah kami boleh beri’tikaf di kamar tersebut?

Jawaban:

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan itu khusus dilakukan di dalam masjid dan tidak sah selainnya.

Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

“I’tikaf tidak sah kecuali dilakukan di dalam masjid, jika orang yang beri’tikaf tersebut adalah laki-laki. Kami tidak mengetahui adanya selisih pendapat di antara para ulama mengenai hal ini. Dalil hukum masalah ini adalah firman Allah Ta’ala:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan janganlah kalian campuri mereka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS: Al-Baqarah: 187)

Allah telah mengkhususkan i’tikaf dikerjakan di dalam masjid, jika seandainya i’tikaf sah di selain masjid, maka tentu tidak akan ada larangan khusus menggauli istri di dalamnya. Karena berhubungan badan diharamkan dalam i’tikaf secara mutlak. Dalam hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ’anha berkata:

‘Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang beritikaf ia menjulurkan kepalanya kepadaku sedang beliau di dalam masjid, lalu aku menyisir rambutnya, dan beliau tidak pernah masuk ke rumah (keluar dari masjid) kecuali karena suatu kebutuhan.’

Diriwayatkan oleh al-Daraquthny dengan sanadnya dari al-Zuhri, dari ‘Urwah dan Said bin al-Musayyab, dari ‘Aisyah:

“Dan bahwasanya sunnah bagi orang yang beri’tikaf adalah tidak keluar kecuali untuk suatu kebutuhan. Dan tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang ditegakkan shalat jama’ah di dalamnya.” (Lih: al-Mughni, 3/65).

Sedangkan kamar terpisah tersebut, nampaknya bukan bagian dari masjid yang digunakan untuk shalat. Maka i’tikaf di dalamnya tidak sah.

Standar batasan dalam menentukan ruangan yang termasuk masjid dan yang tidak termasuk adalah:

  1. Kalau kamar yang bersambung dengan masjid tersebut disediakan sebagai masjid, atau si pembangun masjid berniat menjadikannya bagian dari masjid untuk shalat di dalamnya, maka ia mempunyai hukum masjid yaitu diperbolehkan i’tikaf di dalamnya dan wanita haid dan nifas dilarang menetap. Akan tetapi kalau diniatkan sebagai tempat belajar, pertemuan atau tempat tinggal imam dan muadzin dan tidak dibuat sebagai tempat shalat, maka ketika itu ia tidak masuk dalam hukum masjid.
  2. Jika tidak diketahui niat si pembangun masjid, maka hukum asalnya adalah selama ia masuk dalam pagar masjid dan mempunyai pintu ke masjid, maka ia mempunyai hukum masjid.
  3. Halaman dan pelataran yang dikelilingi pagar masjid mempunyai hukum masjid.

Al-Nawawi Rahimahullah berkata:

“Tembok masjid di dalam dan di luarnya, mempunyai hukum masjid dalam hal penjagaannya dan pengagungan atas kesuciannya. Begitu pula atap, sumur yang ada di dalamnya, dan pelatarannya. Imam Syafi’i dan murid-muridnya Rahimahumullah telah menegaskan bahwa sah beri’tikaf di pelataran dan di atapnya. Dan sahnya shalat makmum di dalamnya yang mengikuti shalat orang yang di dalam masjid.” (Lih: al-Majmu”, 2/207).

Dalam kitab Mathaalib Uli al-Nuha (2/234) dikatakan:

“Diantara batasan yang termasuk masjid adalah bagian belakangnya yakni atapnya dan juga pelataran yang dikelilingi tembok.

Kalau masjid mempunyai pagar dan pintu, maka (hukumnya) seperti masjid. Karena ia bersama masjid dan mengikutnya. Dan kalau tidak dikelilingi pagar, maka tidak ada ketetapan baginya hukum masjid. Misalnya: menara masjid yang mana pintunya (menyatu) dengan masjid. Kalau menara dan pintunya di luar masjid, meskipun dekat lalu orang yang beri’tikaf keluar untuk azan, maka i’tikafnya batal.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah ditanya:

“Kamar yang berada di dalam masjid apakah boleh beri’tikaf di dalamnya?”

Beliau menjawab:

“Ada banyak kemungkinan. Barangsiapa yang melihat keumuman perkataan para ahli fiqih, maka dia mengatakan, ‘itu termasuk bagian dari masjid’ karena ruangan dan kamar yang dikelilingi tembok masjid, termasuk bagian dari masjid.

Barangsiapa yang melihat bahwa niat awal dibangunnya bukan bagian dari masjid, bahwa kamar tersebut dikhususkan untuk Imam maka itu seperti rumah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam. Karena pintu rumah Rasulullah langsung ke masjid, meskipun begitu ia tetap disebut rumah dan beliau tidak masuk ke rumahnya (yakni ketika beri’tikaf).

Maka sebagai bentuk kehati-hatian bagi orang yang beri’tikaf agar tidak berada di dalamnya. Akan tetapi kebiasaan orang-orang pada zaman sekarang menganggap kamar yang ada di dalam masjid termasuk masjid.” (Lih: Syarh al-Kaafi).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/130984

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here