Pertanyaan:

Pemerintah kami mengkhususkan sebagian masjid sebagai tempat i’tikaf bagi orang-orang yang ingin melaksanakan i’tikaf. Dan ada juga masjid lain yang tidak digunakan untuk i’tikaf. Akan tetapi ada sebagian orang yang ingin beri’tikaf di masjid tersebut. Maksud saya di masjid yang tidak dikhususkan pemerintah untuk beri’tikaf. Apakah pegawai masjid tersebut berdosa jika melarang mereka untuk beri’tikaf di dalamnya dengan alasan taat kepada pemerintah? Apakah mereka termasuk dalam firman Allah:

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 114)

Kalau sekiranya mereka berdosa, di manakah letak ketaatan kepada pemerintah? Terlebih lagi sudah ada masjid-masjid lain yang telah diberi izin sebagai tempat i’tikaf. Mohon penjelasannya, terima kasih.

Jawaban:

Pertama:

Masjid adalah tempat paling mulia di muka bumi ini. Ia adalah rumah Allah, dibangun untuk beribadah kepada-Nya dengan shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir kepada Allah, belajar dan mengajarkan ilmu agama serta beri’tikaf. Dalam hal ini Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya masjid itu (diperuntukkan sebagai tempat) untuk mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, shalat dan membaca al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 285)

Maka setiap Muslim berhak untuk masuk ke dalamnya dan beribadah kepada Allah Ta’alaselagi hal itu dilaksanakan sesuai dengan ketentuan agama.

Atas dasar ini, maka barangsiapa yang ingin beri’tikaf di masjid manapun, maka dia berhak untuk itu dan tidak boleh seorang pun melarangnya. Barangsiapa yang melarangnya, dikhawatirkan termasuk dalam ayat yang mulia ini:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُوْلَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya, kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. Al-Baqarah: 114)

Maksudnya tidak seorang pun yang lebih zalim dari orang itu.

Pengharamannya lebih keras lagi, kalau larangan itu dikarenakan orang-orang yang beri’tikaf tersebut adalah orang-orang yang gigih mengikuti sunnah Nabi dan melarang manusia dari berbuat bid’ah serta melarang mereka berbuat kerusakan di muka bumi, maka dengan adanya pelarangan beri’tikaf di rumah Allah tersebut bertujuan mempersempit ruang gerak mereka.

Barangsiapa yang bersikeras -sebagaimana kondisi yang disebutkan di atas- dalam melarang orang beri’tikaf di masjid untuk melaksanakan shalat, membaca al-Qur’an dan mengingat Allah, maka dia berdosa. Ia termasuk dalam ancaman ayat tersebut dan barangsiapa yang membantunya, maka sama halnya ia berdosa.

Sementara para pegawai masjid, jikalau mereka mampu berdiri membela mereka (orang-orang yang beri’tikaf) karena Allah, di depan orang yang melarang i’tikaf di masjid tanpa alasan yang hak, maka hal ini memanglah menjadi kewajiban mereka dan tidak ada usaha lain selain itu. Akan tetapi jika mereka tidak mampu, maka hendaklah mereka bersikap lemah lembut terhadap orang yang ingin beri’tikaf dengan meminta mereka mencari tempat i’tikaf yang lain. Karena tidak bijak, jika seseorang beri’tikaf di masjid kemudian mendatangkan kesulitan bagi saudara muslimnya yang lain.

Terkadang di dalamnya terdapat kebaikan untuknya dan untuk kaum Muslimin jika melaksanakan i’tikaf di masjid yang telah mendapat izin yaitu agar dapat menyatu dengan kaum Muslimin dalam jumlah yang banyak. Dan boleh jadi menjadi wasilah dalam mengajarkan mereka tentang hukum-hukum agama yang belum mereka ketahui. Atau seseorang memberi mereka nasehat yang bermanfaat.

Kedua,

Bisa jadi larangan i’tikaf di sebagian masjid bisa diterima, karena bangunannya kecil dan sempit bagi orang yang shalat. Sehingga beri’tikaf di sana dapat mengganggu orang shalat dan menambah kesempitan untuk mereka.

 Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/127373

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here