Pertanyaan:

Kapan seorang musafir diharamkan membatalkan puasanya? Mohon sebutkan sebabnya.

Jawaban:

Ayat-ayat al-Qur’an, al-Sunnah al-Nabawiyah serta konsensus para ulama menunjukkan bahwa seorang musafir boleh tidak berpuasa pada siang hari bulan Ramadhan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ahli fiqh telah menyebutkan bahwa musafir yang boleh tidak menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan adalah musafir yang melakukan perjalanan mencapai jarak dibolehkannya mengqashar shalatnya, dimana perjalanannya itu merupakan perjalanan yang mubah.

Adapun orang-orang yang melakukan perjalanan namun tidak mencapai jarak dibolehkannya mengqashar shalat, atau perjalanan yang dilakukannya merupakan perjalanan maksiat, maka tidak dibolehkan bagi keduanya untuk tidak berpuasa. Demikian pula, jika seseorang melakukan perjalanan hanya karena niat untuk membatalkan puasanya.

Jarak perjalanan yang dibolehkan mengqashar shalat di dalamnya oleh mayoritas ulama adalah 4 burud yaitu sekitar 80 km. Diantara ulama juga ada yang mengatakan bahwa jarak bukanlah patokan dalam penentuan perjalanan itu, kan tetapi yang menjadi patokannya adalah apa yang dianggap oleh manusia sebagai perjalanan (‘urf).

Pendapat yang mengatakan bahwa seorang yang melakukan perjalanan maksiat tidak boleh membatalkan puasanya serta beberapa hal-hal lainnya dari rukhshah (keringanan) perjalanan seperti mengqashar shalatnya adalah pendapat Madzhab Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. (Lih: al-Mughni: 2/52)

Mereka beralasan bahwa tidak berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan keringanan dari Allah bagi yang melakukan perjalanan. Sedangkan seorang yang melakukan perjalanan dengan tujuan maksiat kepada Allah, maka ia tidak berhak mendapatkan keringanan dari Allah Azza wa Jalla.

Diantara ulama ada yang berpendapat dengan firman Allah Azza wa Jalla:

 “Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak berbuat zhalim serta tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-Baqarah: 173)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membolehkan bagi seorang yang dalam keadaan terpaksa memakan bangkai dalam keadaan ia berbuat zhalim atau melampui batas. Intinya, memakan bangkai tidak dibolehkan bagi pelaku maksiat yang berada dalam keadaan darurat.

Mazhab Hanafiah berpandangan lain, mereka mengatakan bahwa seorang yang berperjalanan dengan perjalanan maksiat tetap memiliki hak mendapatkan rukhshahperjalanan berupa tidak berpuasa, mengqashar shalat dan hal-hal lainnya. Pendapat ini juga yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. (Lih: al-Bahru al-Raiq: 2/149 dan Majmu’ Fatawa: 24/110)

Mereka tidak menerima pendapat mayoritas ulama karena berdalilkan dengan ayat yang sama. Mereka berkata bahwa kezhaliman dalam ayat tersebut maksudnya adalah seorang yang mencari makanan haram padahal ia mampu mendapatkan yang halal. Sedangkan seorang yang berlebih-lebihan adalah seorang melampaui batas ukuran yang dibutuhkan.

Adapun seseorang yang berperjalanan karena niat ingin membatalkan puasa, karena orang-orang seperti ini ingin bersiasat terhadap syariat, sehingga hukumannya adalah tidak memperbolehkan apa yang ia niatkan.

Disebutkan dalam kitab Kassyaf al-Qina’ (2/312) yang merupakan kitab fiqih Madzhab Hanbaly:

“Akan tetapi jika ia berperjalanan karena ingin membatalkan puasanya, maka perbuatan ini haram baginya (melakukan) perjalanan dan berbuka puasa, dimana tidak ada alasannya melakukan perjalanan kecuali karena ingin membatalkan puasa. Pengharaman membatalkan puasa baginya karena tidak ada udzur syar’i padanya. Adapun pengharaman perjalanannya karena hal itu merupakan sarana untuk membatalkan puasa yang diharamkan.”

Tidak boleh bagi seorang musafir membatalkan puasanya kecuali setelah meninggalkan batas kota atau desanya. Adapun jika belum sampai batas kota, maka haram baginya membatalkan puasanya, sebab saat itu masih berstatus sebagai mukim.

Oleh karenanya, diharamkan bagi musafir untuk membatalkan puasanya pada beberapa keadaan berikut:

  • Jika perjalanannya tidak mencapai jarak dibolehkannya mengqashar
  • Jika perjalanannya bukanlah perjalanan mubah –menurut mayoritas ulama-
  • Jika berperjalanan dan ingin membatalkan puasa sebelum sampai pada perbatasan kota atau desa.
  • Seseorang menetap pada satu negara atau daerah yang ia kunjungi lebih dari 4 hari, menurut mayoritas ulama. Sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa boleh melakukan keringanan-keringanan dalam perjalanan selama ia berperjalanan walaupun dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Wallahu a’lam.

Sumber: https://islamqa.info/ar/50758

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here