Pertanyaan:

Aku mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Bukanlah suatu kebaikan berpuasa saat melakukan safar”.

Apakah hadits tersebut menunjukkan bahwa puasa tidak sah bagi seorang musafir?

Jawaban:

Pertama: Puasa pada saat safar memiliki 3 kondisi:

Pertama: Jika puasa tidak memberatkannya, maka puasa lebih utama.

Kedua:  Jika puasa memberatkannya, maka membatalkan puasa lebih utama.

Ketiga: Jika seseorang mendapatkan mudharatketika berpuasa atau khawatir akan binasa, maka berpuasa hukumnya haram dan wajib membatalkan puasa.

Kedua:

Hadits yang disebutkan oleh penanya berlaku untuk keadaan ketiga. Jika kita mengetahui bentuk hadits dan latar belakang munculnya hadits itu, niscaya akan semakin jelas perkaranya.

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhary nomor 1946 dan Muslim nomor 1115 dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ  فَرَأَى زِحَامًا وَرَجُلا قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ : مَا هَذَا .  فَقَالُوا : صَائِمٌ. فَقَالَ : لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallammelakukan safar. Tiba-tiba beliau melihat sekerumunan manusia dan seorang laki-laki yang dibawa ke tempat berteduh. Maka beliau bersabda: “Ada apa ini?” Mereka berkata: “Dia seorang yang sedang berpuasa”. RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah perkara yang baik berpuasa saat melakukan safar”.

Imam al-Sindiy rahimahullah berkata:

“Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:Bukanlah perkara yang baik…’ maksudnya adalah puasa laki-laki tersebut bukanlah suatu ketaatan dan ibadah.”

Imam al-Nawawy rahimahullah berkata:

“Maknanya adalah jika berat bagi kalian dan kalian khawatir mendapatkan mudharat. Bentuk hadits ini menunjukkan makna ini. Jadi hadits ini hanya berlaku bagi orang-orang yang mendapatkan mudharat ketika ia berpuasa.”

Makna inilah yang dipahami oleh Imam al-Bukhary rahimahullah terhadap hadits ini. Oleh karenanya, beliau membuat judul bab dalam kitabnya, “Bab perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada seorang laki-laki yang dibawa berteduh karena terik panas yang amat menyengat: ‘Bukanlah perkara yang baik berpuasa saat safar’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“Imam Bukhary mengisyaratkan pada bab ini bahwa sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: ‘Bukanlah perkara yang baik berpuasa saat safar’ adalah sesuai yang beliau sebutkan berupa kesukaran.”

Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib al-Sunan berkata:

“Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:Bukanlah perkara yang baik berpuasa saat safar’, hal ini hanya disebutkan kepada seorang laki-laki tertentu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya ketika ia dibawa berteduh. Ia merasa sangat berat karena berpuasa. Akhirnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan sabda ini. Maksudnya, bukanlah perkara yang baik ketika seseorang memberatkan dirinya sendiri hingga ia sampai pada keadaan yang buruk seperti ini, sementara Allah telah ia melapangkannya untuk berbuka.”

Ketiga:

Tidak mungkin memahami hadits ini secara umum, sehingga dipahami bahwa bukanlah perkara yang baik berpuasa pada saat melakukan safar pada berbagai jenis kondisi safar. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampernah berpuasa saat melakukan safar.

Oleh karena itu, Imam al-Khattaby rahimahullahberkata:

“Sabda beliau keluar karena adanya sebab yaitu dikhususkan bagi seseorang yang keadaannya seperti dalam hadits ini. Seolah-oleh beliau bersabda: “Bukanlah perkara yang baik bagi seseorang yang melaksanakan safar dan ia berpuasa hingga merasakan penderitaan yang sangat berat seperti ini”. Hal ini berdasarkan dalil bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampernah berpuasa saat melakukan safar pada peristiwa Fathu Makkah.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/12481

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here