Pertanyaan:

Pertanyaan saya berkaitan dengan puasa yang dikerjakan di luar bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maksud saya, puasa yang dikerjakan oleh seorang muslim yang memiliki keinginan untuk menikah akan tetapi belum mampu melaksanakannya. Saya tahu bahwa dalam kondisi seperti ini dia disarankan untuk berpuasa, namun saya ingin mengetahui secara lebih detail tentang hukum yang benar seputar hal tersebut.

Jawaban:

Agama ini datang untuk membantu para pemeluknya agar mampu mengendalikan hawa nafsu mereka, hal ini dimaksudkan agar tidak ada satupun muslim yang memiliki kepribadian istimewa menjadi tawanan bagi hawa nafsunya seperti layaknya binatang.

Selain itu, agama yang lurus ini juga mensyariatkan berbagai aturan baik yang wajib maupun sunnah agar dapat melindungi mereka dari dampak negatif yang timbul akibat memperturutkan hawa nafsu.

Dan di antara aturan tersebut adalah syariat puasa bagi mereka yang belum mampu menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan cara yang halal melalui pernikahan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا لاَ نَجِدُ شَيْئًا، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ” (رواه البخاري ومسلم)

“Pada waktu muda dulu, kami pernah bersama Nabi shallallah ‘alaih wa sallam. Saat itu kami tidak memiliki apapun, lalu Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam berkata kepada kami:

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian telah mempunyai kemampuan maka hendaknya ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa, sebab hal tersebut dapat meredakan nafsunya.” (HR. Bukhari no. 5066 dan Muslim no. 1400).

Maksudnya adalah bahwa puasa meringankan pengaruh hawa nafsu bagi para pemuda.

Meskipun syariat puasa ini sebenarnya ditujukan untuk para pemuda yang belum mampu menikah, namun bersamaan dengan semakin merebaknya fitnah dan berbagai macam godaan serta semakin mudahnya akses kemungkaran, maka syariat puasa ini sebenarnya juga dibutuhkan oleh semua kalangan; terutama bagi mereka yang tinggal di tengah masyarakat yang cenderung bebas (hedonis). Oleh karena itulah, sudah seharusnya puasa menjadi solusi bagi semua untuk menjaga kesucian diri (‘iffah) dan agama.

Di samping puasa, hendaknya seorang muslim juga berdoa kepada Allah memohon agar Dia senantiasa menjaga kehormatan dan agamanya serta memudahkannya dalam pernikahan sebagai sarana untuk menjaga kemaluan. Juga memohon kepada Allah agar selalu diingatkan akan bidadari-bidadari yang telah Dia siapkan bagi mereka yang istiqomah menjalankan perintahNya dan menjaga diri dari segala laranganNya.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/26811

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here