Pertanyaan:

Saya adalah wanita Nasrani tapi saya tidak mempercayai lagi agama saya. Saya sendiri sudah beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, oleh karena itulah saya ingin sekali bisa menjalankan puasa di bulan Ramadhan.

Masalahnya, sampai saat ini status saya masih beragama Nasrani karena saya tidak tahu bagaimana caranya masuk Islam, jadi apakah saya diperbolehkan untuk menjalankan puasa?

Sungguh, saya ingin sekali menjadi seorang muslimah dan akupun bisa merasakan getaran itu, namun saya pikir itu tidak cukup.

Jawaban:

Semoga Allah Ta’ala melapangkan hatimu untuk dapat menerima Islam.

Selama Anda belum masuk Islam, Anda tidak akan mendapatkan apapun dari puasa yang Anda lakukan kecuali lapar dan dahaga saja. Karena pada dasarnya seluruh rangkaian ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima oleh Allah kecuali jika dibangun di atas landasan keyakinan (aqidah) yang benar dan agama yang lurus.

Maka dari itu, prioritas Anda saat ini adalah memulai langkah untuk masuk Islam. Dan setelah Anda masuk Islam, Anda dapat menunaikan shalat, menjalankan puasa, membaca al-Qur’an, dan melaksanakan berbagai macam ibadah lain yang bisa menjadikan hati Anda semakin hidup dan melapangkan dada Anda.

Perlu Anda ketahui bahwa masuk ke dalam agama Islam bukanlah perkara yang sulit, Anda hanya perlu mengikrarkan dua kalimat syahadat yang berbunyi:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Adanya perasaan yang menggebu di dalam diri Anda untuk masuk Islam merupakan pertanda yang bagus, maka dari itu Anda harus segera mengambil keputusan pamungkas yang akan membawa dampak besar bagi kebahagiaan Anda di dunia dan akhirat.

Jika Anda memang tidak lagi mempercayai agama Anda –sebagaimana yang Anda katakan- tetapi juga belum mengambil keputusan untuk masuk Islam, lalu adakah kehidupan ini masih bernilai dengan ketiadaan agama yang dianut, nilai hidup yang diyakini, dan aturan Tuhan yang diikuti?

Apakah Anda kira kehidupan ini hanya sekedar permainan, senda gurau dan upaya pemuasan nafsu, lalu kemudian selesai begitu saja dengan kematian? Tidak sama sekali, karena setelah kematian ada perhitungan amal perbuatan yang kemudian diikuti oleh balasan surga atau neraka.

Jika demikian, maka Anda tidak boleh lagi menunggu apalagi terlambat untuk menggapai keselamatan Anda, karena tidak ada seorangpun yang tahu kapan kereta kehidupan ini akan berhenti, yang pasti dia akan berhenti pada stasiun pertama kehidupan akhirat, dan pada saat itulah tidak berguna lagi segala bentuk penyesalan.

Dan mereka yang menyesal akan terus berharap agar diberi kesempatan untuk kembali ke dunia sehingga mereka bisa beriman dan beramal shaleh, Allah berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (المؤمنون: 99-100)

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun, 23:99-100).

Allah juga menggambarkan kondisi mereka dengan firmanNya yang berbunyi:

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (الأنعام:27)

“Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata: “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia) tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am, 6:27).

Dan di dalam ayat lain disebutkan:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَى عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا كَذَلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُورٍ (36) وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ (فاطر:36-37)

“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu”. (Dikatakan kepada mereka): “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bag orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan. Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”(QS. Fathir, 35:36-37).

Kami memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan petunjuk, bimbingan dan taufikNya kepada Anda sehingga Anda bisa mengerjakan bermacam hal yang mengandung kebaikan di dunia dan akhirat.

Dan kami juga selalu siap sedia untuk menjawab berbagai pertanyaan yang Anda ajukan, insya Allah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/37653

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here