Soal:

Bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, orang-orang begitu antusias mengerjakan shalat taraweh; pertanyaan saya sebagai berikut:

Ada sebagian jamaah yang langsung mengerjakan 11 rakaat setelah shalat Isya, sebagai penerapan apa yang dilakukan oleh Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dan ada juga jamaah yang mengerjakan 21 rakaat setelah shalat Isya, lalu 10 rakaat sebelum shalat Subuh, kemudian baru shalat witir. Bagaimana hukum semua tata cara shalat yang saya sebutkan tadi? Padahal, yang saya ketahui, ada sebuah pendapat  yang mengatakan bahwa shalat malam sebelum Subuh hukumnya bid’ah.

Jawaban:

Shalat taraweh merupakan sunnah berdasarkan Ijmak kaum muslimin, sebagaimana yang disebutkan oleh an-Nawawy –Rahimahullah– di dalam al-Majmu’, dan dianjurkan pula oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-, di antara dalil yang tertera, yaitu sabda Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang menghidupkan bulan Ramadhan dengan shalat malam lantaran iman dan berharap pahala, maka dosa yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhary no. 37 dan Muslim no. 760).

Lantas bagaimana ia disebut bid’ah, padahal Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– telah menganjurkannya dan Ijmak kaum muslimin bahwa ia merupakan sunnah.

Barangkali alasan yang mengatakan bahwa ia termasuk perbuatan bid’ah, yaitu shalat tersebut dilakukan secara berjamaah di masjid.

Alasan ini pun tidak benar, karena Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– pernah mengerjakannya dengan berjamaah bersama para sahabatnya beberapa malam, kemudian beliau mengerjakan tidak berjamaah, sebab khawatir akan diwajibkan nantinya.

Kemudian setelah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– wafat, dan wahyu pun terputus, maka sirnalah kekhawatiran tersebut, karena tidak mungkin shalat tersebut akan diwajibkan setelah Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– wafat. Lalu Umar –Radhiyallahu ‘anhu– berinisiatif mengumpulkan kembali kaum muslimin untuk shalat taraweh secara berjamaah.

Dan waktu shalat taraweh dimulai setelah shalat Isya hingga terbitnya fajar.

Shalat taraweh tidak ditentukan jumlah rakaatnya, bahkan seseorang boleh mengerjakannya dengan rakaat yang banyak atau sedikit. Kedua tata cara shalat taraweh yang disampaikan oleh penanya dibolehkan.

Hal tersebut menurut jamaah masjid masing-masing, terkait manakah tata cara yang lebih sesuai bagi mereka. Namun memang yang lebih utama, mengerjakannya sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam– yaitu, beliau shalat malam tidak pernah melebihi 11 rakaat, baik itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya.

Syekh Ibnu Utsaimin, setelah beliau menjelaskan permasalahan jumlah rakaat shalat taraweh, beliau mengatakan,

“Sebenarnya dalam masalah ini terdapat  kelonggaran, sehingga jika ada orang yang shalat sebanyak 11 rakaat atau 23 rakaat tidak boleh diingkari, bahkan perkara tersebut cukup longgar, alhamdulillah.” (Lih: Fatawa Syeikh Ibn Utsaimin, 1/407)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here