Soal:

Pengidap gagal ginjal yang harus rutin melakukan cuci darah tiga kali per pekan; bagaimana puasanya?

Jawaban:

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah juga pernah ditanya, “berkenaan dengan pasien yang melakukan cuci ginjal, apakah wudhunya batal karena keluarnya darah dalam proses tersebut? Lalu bagaimana pula hukum puasa dan shalatnya jika bertepatan dengan jadwal cuci ginjalnya?”

Lalu beliau menjawab:

“Mengenai apakah wudhunya batal? Maka hal itu tidak membatalkan wudhu. Karena pendapat yang rajih (kuat) dalam hal ini dari kalangan para ulama adalah bahwa semua yang keluar dari tubuh tidak membatalkan wudhu, kecuali apa yang keluar dari dua saluran pembuangan saja. Yaitu yang keluar dari kemaluan depan maupun belakang, itulah yang membatalkan wudhu. Baik berupa urine (cair), feses (padat), atau hanya angin (gas). Semua yang keluarnya melalui saluran sekresi membatalkan wudhu.

Adapun yang keluar bukan melalui saluran pembuangan, seperti mimisan yang keluar dari hidung, darah yang keluar dari luka, dan semisalnya. Yang demikian itu tidak membatalkan wudhu’ baik keluar sedikit maupun banyak. Karenanya, pelaku cuci darah tidak batal wudhunya.

Berkaitan dengan shalatnya, si pasien bisa menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashar. Juga menjama’ shalat Maghrib dengan shalat Isya. Jadwalnya bisa diatur bersama dokter yang langsung menanganinya saat itu.  Karena proses cuci darah ini tidak memakan waktu lebih dari setengah waktu siang. Supaya si pasien tidak melewatkan waktu shalat Zhuhur dan Ashar sekaligus. Maka dia boleh meminta misalnya, “Mohon proses pencuciannya diundur sedikit dari waktu zawal (matahari tergelincir), sekira saya bisa melakukan shalat Zhuhur dan Ashar terlebih dahulu. Atau jadwalnya dimajukan sebelum Zhuhur, supaya saya masih sempat melakukan shalat Zhuhur dan Ashar sebelum waktu shalat Ashar habis.”

Intinya dia boleh menjama’ shalat, namun jangan sampai mengundurkan pelaksanaan shalatnya hingga keluar waktu. Karena itu, perlu mengatur kesepakatan jadwal dengan dokter yang menanganinya.

Adapun mengenai puasanya, Saya sendiri masih ragu tentang hal itu. Bisa jadi itu berbeda dengan praktek hijamah (bekam). Hijamah itu proses pengeluaran darah dari tubuh, lalu darahnya tidak dikembalikan ke tubuh lagi. Ini termasuk pembatal puasa, sebagaimana diterangkan dalam hadits. Sementara dalam cuci darah ini, darahnya dikeluarkan, lalu dibersihkan, setelah itu dikembalikan ke dalam tubuh lagi. Namun saya khawatir, dalam pencucian darah itu ada penambahan zat-zat yang mengandung nutrisi yang mencukupi kebutuhan makan dan minum. Jika faktanya seperti yang saya khawatirkan, maka jelas itu termasuk pembatal puasa. Jika demikian, maka jika seseorang mengidap penyakit itu seumur hidupnya, dan penyakit ini tidak bisa diharapkan sembuh, maka dia hanya wajib mengganti puasa dengan fidyah, bersedekah makanan untuk orang miskin sekali untuk setiap hari yang dia tinggalkan puasanya.

Namun jika waktunya berselang-seling, kadang harus cuci darah dan kadang tidak, maka dia harus meninggalkan puasa saat jadwal cuci darah saja. Lalu dia harus mengqadha’ puasanya itu di hari lain.

Adapun jika ternyata campuran yang ditambahkan ke dalam darah saat proses cuci darah tersebut tidak bersifat mengandung nutrisi, hanya membersihkan dan memurnikannya saja, maka proses itu tidak membatalkan puasa. Jika memang begitu, maka tindakan ini tidak mengapa dilakukan meskipun tengah puasa. Masalah ini tentu para dokter lah yang lebih tahu.” (Lih: “Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin”, 20/113).

Ringkasnya:

Pengidap gagal ginjal harus meninggalkan puasanya di hari-hari yang bertepatan dengan jadwal cuci darahnya. Lalu jika ada kemungkinan untuk melakukan puasa qadha’, dia wajib mengqadha’. Jika hal itu tidak memungkinkan, maka hukumnya sama dengan lelaki jompo yang tidak kuat puasa karena terlalu tua. Maka dia boleh tidak puasa dan sebagai gantinya dia harus memberi makan seorang miskin untuk per hari yang dia tinggalkan itu.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/49987

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here