Soal:

Banyak jenis dan merek obat sakit asma ada yang berbentuk gas hisap, ada pula berupa kapsul yang dimasukkan ke sebuah alat berbentuk tabung khusus, untuk disedot melalu mulut, kapsul itu sendiri diproses di dalam tabung tersebut sehingga menyublim dan siap dihirup. Ada juga yang berupa cairan yang dimasukkan dalm sebuah alat dengan selang yang tersambung pada masker yang dipasang di wajah, lalu cairan ini diproses dalam alat sehingga menjadi uap air atau embun, lalu dihirup melalui hidung.

Apakah penggunaan obat jenis ini termasuk penyebab puasa batal?

Jawaban:

Memang benar, jenis obat asma ada banyak macamnya. Dalam penggunaannya sebagian ada yang membatalkan puasa, ada pula yang tidak. Termasuk yang paling banyak beredar adalah jenis; Bukhakh, oksigen, penguapan dan kapsul minum.

Bukhah adalah jenis obat asma berbentuk gas yang terkompresi (dimampatkan sehingga berbentuk cair, seperti cairan gas dalam korek gas, penj), obat hisap ini dihirup dalam bentuk gas sehingga zatnya sampai ke paru-paru lalu berfungsi untuk melonggarkan relung-relung paru yang menyempit. Penggunaan ini tidak mirip konsumsi makanan maupun minuman. Ulama’ al-Lajnah al-Da’imah sudah memfatwakan bahwa obat ini tidak menyebabkan puasa si pengguna menjadi batal. Itu senada dengan fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  dan mayoritas ulama’ kita.

Adapun penggunaan oksigen, ini juga tidak termasuk kategori makanan maupun minuman. Karena itu, tidak mengapa digunakan di saat puasa, tidak membatalkan.

Tentang penguapan; penggunaannya biasanya melalui alat konventer yang mengubah cairan obat, -biasanya obatnya terkandung dalam larutan zat garam sodium-,  dialirkan ke alat konventer itu lalu diubah menjadi uap air tipis. Obatnya diletakkan di sebuah wadah kecil khusus dalam alat tersebut. Saat dioperasikan, alat ini akan meniupkan atau menyemprotkan obat tersebut dalam bentuk uap air dengan kecepatan tinggi, sehingga siap dihirup oleh pasien. Bisa dengan masker khusus yang ditutupkan ke wajah, atau melalui selang kecil yang langsung dimasukkan ke rongga mulut.

Uap larutan obat dan garam ini akan sampai ke kerongkongan dan terasa dengan jelas. Rasanya sangat mirip seperti mengkonsumsi sesuatu. Rasa yang sampai di tenggorokan itu tidak bisa dihindari oleh pasien. Oleh karena itu, jika menggunakan cara ini. Pasien hendaknya membatalkan puasa, lalu menqadha’nya lain waktu.

Sedangkan jenis kapsul, maksudnya adalah pil berbentuk selongsong berisi serbuk obat kering. Pil berisi serbuk ini dimasukkan ke dalam alat tertentu berbentuk tabung yang berfungsi untuk melubangi kulit kapsulnya, untuk melepaskan serbuk obat sehingga siap dihirup dari alatnya oleh pasien secara oral (melalui mulut).

Penggunaan kapsul jenis ini jelas membatalkan puasa. Karena partikel-partikel serbuk obat ini bercampur dengan air liur lalu mengalir ke lambung pasien.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Pasien penyakit asma terkadang perlu menghisap tabung obat hirup di saat puasa di siang hari, bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab:

“Nafas terhambat yang biasa disebut sebagai penyakit asma memang diderita sebagian orang. Kita bermohon kepada Allah agar menyelamatkan kita juga mereka dari penyakit tersebut. Biasanya orang akan memakai dua jenis obat, ada yang berupa kapsul, ini jika digunakan akan membatalkan puasa. Karena zat itu dalam jumlah kecilnya akan masuk ke lambung. Maka yang sedang puasa dilarang memakainya di siang hari bulan Ramadhan kecuali dalam keadaan darurat.

Jika dia terpaksa menggunakannya, maka status puasanya hari itu batal, sehingga dia boleh makan dan minum sepanjang sisa hari itu. Lalu dia harus mengqadha’nya di hari lain. Jika diperkirakan penyakit ini akan berlanjut sepanjang hidupnya. Maka hukumnya seperti orang jompo. Dia tidak wajib mengqadha’ tapi menggantinya dengan fidyah, yaitu sedekah makanan seporsi kenyang untuk fakir-miskin sebagai ganti per hari yang dia tinggalkan.

Jenis obat kedua, berupa gas yang hanya mengandung zat udara (bukan cair maupun padat, red-) yang berfungsi membuka rongga-rongga dalam paru-paru sehingga pasien dapat bernafas lega kembali. Ini tidak menyebabkan puasanya batal. Orang yang sedang puasa boleh menggunakan obat ini, dan puasanya tetap sah.”

Beliau juga pernah ditanya:

“Seorang penderita asma tidak mampu membaca al-Qur’an kecuali dengan bantuan tabung oksigen. Bolehkah ia menggunakannya di siang hari bulan Ramadhan?”

Beliau menjawab:

“Jika penggunaan oksigen itu tidak bersifat darurat, maka lebih baik tidak usah menggunakannya. Orang puasa tidak wajib membaca al-Qur’an, maka jangan sampai dikatakan, “pasien ini menggunakan tabung oksigen untuk membaca al-Qur’an”. Namun faktanya banyak penderita asma menyatakan, “Saya tidak bisa meninggalkan penggunaan tabung oksigen ini. Karena kalau tidak pakai, saya mengkhawatirkan keselamatan jiwa saya dan nafas saya terasa tercekik.” Kalau demikian keadaannya, maka kami katakan, bahwa tidak mengapa anda menggunakan tabung oksigen ini. Karena sejauh yang kami tahu, penggunaan oksigen tidak akan masuk sampai ke lambung. Hanya sampai ke mulut rongga-rongga dalam paru-paru yang terbuka agar pernafasan lancar. Jika demikian adanya maka tidak mengapa.

Namun, ada pula pil-pil khusus penderita asma, yang berupa serbuk obat dalam kemasan cangkang kapsul. Obat jenis ini tidak boleh digunakan saat melaksanakan puasa wajib. Karena partikel serbuknya jika tercampur air liur akan sampai ke lambung. Jika hal itu terjadi, maka otomatis puasanya batal. Jika memang terpaksa menggunakannya, maka dia harus membatalkan puasanya, boleh makan dan minum. Lalu dia berkewajiban mengqadha’nya di lain waktu. Jika dia selalu terpaksa menggunakan obat ini selama hidup, maka dia tidak wajib mengqadha’. Sebagai gantinya dia wajib menunaikan fidyah. Yaitu memberi makan orang miskin sekali kenyang untuk tiap hari yang dia tinggalkan. Wallahu a’lam.”

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/78459

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here