Soal:

Saya seorang pemuda penderita lumpuh setengah badan bagian bawah. Saya juga seorang pengguna kursi roda elektrik. Dokter menyarankan saya untuk tidak puasa. Karena vonis dokter menyatakan bahwa tubuh saya membutuhkan suplai air secara kontinyu sepanjang hari. Sementara saat puasa, tentu kita tidak boleh minum dan itu membahayakan organ-organ vital saya secara keseluruhan. Namun saya tidak mengindahkan saran dokter ini. Ramadhan yang lalu saya puasa sebulan penuh. Apakah saya berdosa? Bolehkah saya puasa lagi bulan Ramadhan mendatang? Mohon pencerahan.

Perlu diketahui, dokter saya juga seorang muslim.

Jawaban:

Pertama,

Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap muslim yang mukallaf dan berkemampuan untuk menjalankannya. Maka jika seorang muslim tidak berkemampuan menjalankan puasa, baik karena sakit yang diderita atau akan sangat berat jika tetap berpuasa, atau dia butuh pengobatan di siang hari bulan Ramadhan dengan beragam obat berupa pil ataupun cairan yang diminum, ataupun makanan yang harus dikonsumsi di siang hari. Maka dalam keadaan seperti itu dia berhak secara syari’at untuk tidak berpuasa. Hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Dan barangsiapa menderita sakit atau sedang dalam perjalanan jauh maka (boleh bagi dia untuk mengganti) sejumlah (hari yang dia tinggalkan) itu (untuk dilakukan puasa) pada hari-hari yang lain. Allah hanya menghendaki kemudahan bagimu dan tidak ingin mempersulitmu.” (al-Baqarah (2):185)

Juga sesuai dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah senang jika rukhshah (keringanan yang diberikan)-Nya diambil, sebagaimana Allah murka bila maksiat (kedurhakaan kepada)-Nya dilanggar.” (HR Imam Ahmad (5839) dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Irwa’ al-Ghalil (564).

Dengan dasar ini, jika memang kondisi puasa akan membahayakan menurut vonis dokter yang terpercaya, maka yang wajib dilakukan adalah untuk tidak puasa. Anda tidak boleh nekat berpuasa, mengejawantahkan firman Allah Ta’ala berikut:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan Janganlah engkau ceburkan dirimu dalam kebinasaan.” (al-Baqarah (2):195)

Juga mengamalkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh membiarkan diri dalam bahaya dan tidak boleh pula menimbulkan bahaya.”(HR Ibnu Majah (2341) dishahihkan oleh al-Albany dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah)

Namun mempertimbangkan bahwa faktanya anda sudah mencoba berpuasa Ramadhan tahun lalu dan ternyata tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan, maka hemat kami anda hendaknya mencari second opinion (pandangan alternatif/ pembanding) dari dokter lain yang lebih tahu dan kredibel dibanding dokter pertama, untuk menilai keadaan anda yang sebenarnya. Jika dokter yang ini menyatakan tidak mengapa untuk berpuasa, silakan berpuasa. Namun jika dia juga mengamini pendapat pertama, menyarankan anda untuk tidak puasa, ya jangan berpuasa.

Adapun tentang kewajiban untuk mengqadha’ (mengganti puasa). Jika memang penyakit anda ini temporer, diharapkan akan sembuh dalam waktu dekat, maka anda wajib menunggu hingga saat Allah ta’ala menganugerahkan kesembuhan untuk anda. Barulah, anda mennggantinya sejumlah hari yang ditinggalkan dalam bulan Ramadhan. Sesuai firman Allah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر

“Maka barangsiapa di antara kalian menderita sakit atau sedang dalam perjalanan jauh maka (wajib mengganti) sejumlah (hari yang dia tinggalkan) itu (untuk dilakukan puasa) pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah(2):184)

Namun jika penyakitnya kronis (menahun, permanen), susah diharapkan sembuh, maka yang wajib adalah membayar fidyah (sedekah makanan), dihitung seporsi mengenyangkan bagi fakir miskin per harinya.

Kita bermohon kepada Allah agar menetapkan kesembuhan dan keselamatan jiwa raga untuk anda dan seluruh pasien-pasien muslimin lainnya. Amin.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/107305

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here