Soal:

Ada teman wanita saya yang tidak berpuasa Ramadhan dengan alasan sering menderita penyakit migrain, apakah itu dibenarkan? Bagaiman caranya mengqadha’ hari-hari yang dia tinggalkan itu?

Jawaban:

Orang yang sakit memang boleh meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, berdasarkan Firman Allah,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa saja yang tengah sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh maka hendaknya mengganti sejumlah (hari yagn dia tinggalkan) itu (untuk dilaksanakan puasa) pada hari-hari lainnya.” (al-Baqarah (2):185)

Ketentuan ini berlaku pada sakit yang berat yang menyebabkan puasa terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Adapun sakit ringan yang masih bisa dibarengi dengan puasa tanpa ada masalah, maka sakit ini tidak dihitung sebagai udzur untuk meninggalkan puasa di bulan Ramadhan. Jika memang pusing yang dirasakan menyebabkan dia terasa sangat berat menjalani puasa, maka dia memang boleh meninggalkan puassa saat sakit itu. Lalu mengqadha’ hutang puasanya itu nanti setelah Ramadhan.

Namun jika penyakitnya berkesinambungan, dialaminya secara terus-menerus, sampai-sampai tidak punya kesempatan untuk mengqadha’ puasa. Maka dia boleh mengganti puasanya dengan menunaikan fidyah, yaitu bersedekah makanan untuk seorang miskin sebagai ganti setiap satu hari yang dia tinggalkan itu.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/38040

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here