Soal:

Jika ada seseorang yang ingin berhaji fardhu untuk pertama kalinya, namun ia mempunyai seorang putra yang telah berada di usia pernikahan. Orang ini mempunyai dana yang hanya cukup untuk berhaji atau menikahkah putranya. Dalam kondisi ini, manakah yang lebih utama: menunaikan ibadah haji atau melakukan pernikahan putranya?

Jawaban:

Pertama:

Seorang bapak berkewajiban menikahkan anaknya jika anaknya sudah membutuhkan pernikahan itu dan tidak mampu membiayainya (sendiri) berdasarkan pendapat paling kuat dari 2 pendapat ulama; karena hajat terhadap pernikahan tidak kalah kurangnya dibandingkan hajat terhadap makan dan minum, sehingga ia termasuk dalam kategori nafkah yang wajib.

Al-Mardawi mengatakan dalam al-Inshaf (9/204):

“Seorang pria wajib menjaga kehormatan orang yang wajib ia nafkahi (dengan menikahkannya), baik itu ayahnya, kakeknya, anak-anaknya sendiri, anak-anak mereka, dan siapapun yang wajib untuk ia nafkahi. Inilah pendapat yang shahih dari Madzhab Imam Ahmad.”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Hajat seorang manusia terhadap pernikahan sangatlah besar, bahkan dalam situasi tertentu sama dengan hajatnya kepada makanan dan minuman. Karena itu para ulama menyatakan: bahwa wajib bagi orang yang berkewajiban menafkahi seseorang untuk menikahkannya jika ia berkelapangan untuk itu. Sehingga wajib bagi seorang ayah untuk menikahkan purtanya jika sang anak membutuhkan pernikahan itu dan ia tidak punya biaya untuk itu.

Tapi saya mendengarkan ada sebagian bapak yang lupa bagaimana keadaan mereka sewaktu muda dulu saat putranya meminta untuk menikah, hingga mengatakan: “Menikahlah dari hasil keringatmu!” Ini tidak boleh dan diharamkan baginya (sang ayah untuk mengatakannya-penj) jika ia mampu untuk menikahkannya. Putranya akan menuntutnya kelak di hari kiamat jika sang ayah tidak menikahkannya padahal ia mampu untuk menikahkannya.” (Lih: Fatawa Arkan al-Islam, hal. 440-441)

Kedua:

Jika ibadah haji sang bapak bertabrakan dengan pernikahan sang anak karena biaya yang dimiliki sang ayah tidak cukup kecuali untuk mengerjakan salah satunya, maka dipertimbangkan tentang pernikahan sang anak: apakah memang harus dilaksanakan sekarang atau dapat ditunda?

Bila sang anak sangat membutuhkan pernikahannya dan khawatir dapat terjatuh dalam yang haram, maka pernikahan itu harus didahulukan daripada melaksanakan ibadah hajinya sendiri, maupun ibadah haji ayahnya, karena 2 hal:

Pertama, bahwa penjagaan kehormatan dan pencegahannya agar tidak terjatuh dalam perkara yang haram adalah hal yang wajib dan tidak dapat ditunda. Adapun haji, maka ia dapat ditunda sampai Allah memudahkannya untuk itu.

Kedua, bahwa haji itu tidak wajib bagi sang ayah kecuali jika ia memiliki harta yang melebihi dari nafkah keperluannya dan nafkah untuk orang-orang yang harus dinafkahinya. Dan dalam kasus ini, ia wajib menikahkan putranya agar tidak terjatuh dalam yang haram.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan dalam al-Mughni (5/12):

“Dan jika ia membutuhkan pernikahan dan khawatir dirinya terjatuh dalam kesulitan, maka ia mendahulukan pernikahan –maksudnya: atas ibadah haji-, karena (pernikahan) itu wajib baginya dan ia tidak mungkin mencukupkan diri darinya, sehingga itu seperti (kebutuhannya) terhadap nafkah. Namun jika ia tidak khawatir pada dirinya, ia mendahulukan ibadah haji, karena menikah itu sunnah (dalam kondisi itu), maka ia tidak dapat didahulukan atas ibadah haji yang wajib.”

Lihat juga: al-Majmu’ (7/71) oleh al-Nawawi.

Adapun jika anaknya belum perlu menikah atau tidak khawatir dirinya terjatuh dalam yang haram jika menunda pernikahan, maka ia tidak harus menikahkannya sekarang. Atas dasar itu, maka ibadah haji menjadi wajib bagi sang ayah, karena ia memiliki harta yang berlebih dari nafkah untuk dirinya dan orang-orang yang ditanggung. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan untuk Allah (ada kewajiban) atas manusia untuk berhaji ke Baitullah bagi siapa yang mampu menempuh jalannya. Dan siapa yang kufur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya dari seluruh alam semesta.” (Ali Imran: 97)

Wallahu a’lam.

 

Sumber:  https://islamqa.info/ar/83191

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here