Soal:

Saya pernah berhaji beberapa tahun yang lalu tapi hanya ikut-ikutan (bertaklid). Maksudnya: saya tidak menghafal semua ritual dan urutan manasik haji. Dan sebelum menunaikan haji, Allah memberi saya kesempatan berumrah sebelum haji. Saya ingat bahwa kami mulai melakukan thawaf di lantas atas, dan saya hanya mengikuti keluarga saya. Saya tidak tahu bahwa kami telah memulai thawaf pertama kali. Maksud saya: saya mulai melakukan prosesi haji itu tanpa menyadarinya dan selama beberapa waktu saya kira kami hanya berjalan biasa di tengah kerumunan.

Apakah ini mempengaruhi sahnya ibadah atau itu hanya was-was saja?

Jawaban:

Tidak dipersyaratkan untuk melakukan thawaf atau sa’i atau amalan manasik haji lainnya adanya niat khusus. Bahkan cukup dengan niat umum saja, yaitu niat menunaikan haji atau umrah saat berihram.

Al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi mengatakan:

“Ibadah-ibadah yang memiliki beberapa amalan cukup dengan niat pada awal permulaannya saja, dan tidak perlu dilakukan pada setiap amalannya, karena cukup dengan niat yang berlaku pada seluruh rangkaiannya, seperti: wudhu dan shalat, begitupula dengan ibadah haji; sehingga tidak perlu mengkhususkan thawaf, sa’i dan wuquf dengan niat khusus, berdasarkan pendapat yang paling benar.” (Lih: al-Asybah wa al-Nazha’ir, hal. 27)

Syekh Muhammad al-Amin al-Syanqithy rahimahullah menjelaskan:

“Ketahuilah bahwa pendapat yang paling kuat dan shahih dari pendapat para ulama in sya’aLlah adalah bahwa thawaf tidak membutuhkan niat khusus; karena niat berhaji (saat berihram) sudah mencukupinya. Begitu pula seluruh amalan haji, seperti: wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, sa’i dan melontar jumrah. Semua itu tidak membutuhkan niat khusus, karena niat untuk menunaikan ibadah haji (di awal ihram-penj) sudah meliputi semua amalan itu. Pandangan ini dipegangi oleh mayoritas ulama.

Dalilnya jelas, karena niat melakukan satu ibadah telah meliputi semua bagian-bagiannya. Sehingga sebagaimana setiap ruku’ dan sujud dalam shalat tidak membutuhkan niat khusus, dikarenakan niat shalat telah mencakupi semua hal itu; maka begitu pula seluruh amalan haji tidak membutuhkan niat khusus untuk setiap amalannya, dikarenakan niat haji (di awal) telah mencakupi semuanya.

Di antara dalil yang juga dipegangi (para ulama) adalah bahwa jika ia wuquf di Arafah secara lupa, maka wuqufnya sah berdasarkan ijma’ para ulama. Ini dinyatakan oleh al-Nawawi.

Ada 2 pendapat lain di kalangan ulama –selain pendapat yang benar ini- yaitu:

Pertama, dinyatakan oleh oleh Abu ‘Ali bin Abi Hurairah dari kalangan ulama Syafi’iyyah, bahwa yang khusus berkaitan dengan thawaf, sa’i dan melontar jumrah, maka itu membutuhkan niat. Dan yang selainnya yang tidak berkaitan dengan amalan khusus dan hanya sekedar tinggal/diam seperti wuquf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, maka itu tidak membutuhkan niat khusus.

Kedua, dinyatakan oleh Abu Ishaq al-Marwazy yang berpendapat bahwa tidak ada satupun amalan haji yang membutuhkan niat, kecuali thawaf, karena ia sama dengan shalat, dan shalat itu membutuhkan niat.

Namun pendapat yang paling kuat dan benar –in sya’aLlah- adalah pendapat yang pertama, dan ini pendapat Jumhur.” (Lih: Adhwa’ al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, 4/414)

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Ini adalah masalah yang penting. Niat itu harus ada di awal melakukan ibadah, dan dianjurkan agar Anda mengingatnya pada setiap bagian shalat. Ini yang paling utama, agar niat selalu menyertai amalan pada setiap bagiannya. Inilah yang paling utama. Namun jika ia hilang dari Anda di tengah shalat Anda, apakah itu merusak atau tidak? (Maka jawabannya) tidak. Itu tidak merusak niat Anda yang pertama…

Dari sini, maka banyak ulama yang berpendapat –termasuk Syekh Muhammad al-Syanqithy rahimahullah-berpendapat: bahwa tidak dipersyaratkan adanya niat thawaf ataupun niat sa’i; karena thawaf dan sa’i adalah bagian dari ibadah haji. Jadi sebagaimana Anda tidak meniatkan khusus untuk ruku’ dalam shalat maupun sujud –dan Anda mencukupkan dengan niat umum untuk shalat-, maka begitu pula dengan thawaf, sa’i dan seluruh bagian ibadah (haji), (karena) saat Anda mengucapkan: ‘Labbaika ‘umratan’ di Miqat, sebenarnya Anda telah meniatkan semua amalan yang ada dalam rangkaian umrah.

Pendapat ini juga memberikan kelapangan bagi umat. Banyak orang –apalagi di hari-hari yang padat- memasuki Baitullah al-Haram dan mulai melakukan thawaf namun tidak terlintas di benaknya untuk berniat melakukan thawaf umrah atau thawaf apapun. Maka jika kita berpendapat bahwa thawaf dan sa’i itu sama dengan ruku’ dan sujud dalam shalat, dan bahwa niat umum (di awal) sudah meliputi keduanya, maka itu akan menjadi kelapangan dan kemudahan bagi orang banyak. Dan ini pendapat kebanyakan para ulama, dan ini pula pendapat yang kami pilih; karena sebenarnya banyak orang yang terkejut, apalagi jika melihat banyaknya manusia, hingga mungkin ia melakukan thawaf tanpa menyadari apakah itu untuk haji atau umrah, tapi ia sendiri sudah berniat thawaf karena memang ia datang untuk mengerjakan thawaf…” (Lih: Ta’liqat ‘ala al-Kafi, 1/348)

Atas dasar penjelasan terdahulu, maka thawaf yang Anda lakukan sah dan Anda tidak wajib melakukan apa-apa.

Dan jika yang terjadi pada Anda ini tidak lain hanya mengalami keraguan setelah melakukan ibadah. Anda tidak perlu memerdulikan keraguan itu, karena keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak berarti apa-apa. Itu hanyalah bisikan was-was dari Syaithan.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/227879

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here