Soal:

Berapa kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hajar Aswad? Apakah beliau menciumnya di ketujuh putaran atau satu kali saja?

Jawaban:

Disunnahkan bagi orang yang tawaf untuk mencium Hajar Aswad dalam setiap putaran tawafnya, jika memungkinkan, tanpa mengganggu orang lain. Jika hal itu berat, maka ia cukup menyentuhnya dengan tangannya, lalu mencium tangannya. Jika itu (juga) tidak memungkinkan, maka ia cukup memberi isyarat ke arahnya.

Itu semua disunnahkan pada setiap putaran tawafnya. Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (no. 1878):

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يَدَعُ أَنْ يَسْتَلِمَ الرُّكْنَ الْيَمَانِىَ وَالْحَجَرَ، فِى كُلِّ طَوْفَةٍ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tidak menyentuh Rukun Yamani dan Hajar (Aswad) di setiap putaran tawafnya.” Dihasankan oleh al-Albani rahimahullah.

Lalu dari Nafi’, ia berkata:

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَلِمُ الْحَجَرَ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَبَّلَ يَدَهُ ، وَقَالَ : مَا تَرَكْتُهُ مُنْذُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

“Aku pernah melihat Ibnu Umar menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya, lalu ia mencium tangannya, lalu berkata: ‘Aku tak pernah meninggalkannya sejak aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.’”

Al-Nawawi mengatakan:

“Hadits ini menunjukkan disunnahkannya mencium tangan setelah menyentuh Hajar Aswad jika ia tidak mampu mencium Hajar Aswad. Hadits ini diarahkan kepada orang yang tidak mampu mencium Hajar Aswad, karena orang yang mampu mencium Hajar Aswad (hendaknya) menciumnya dan tidak mencukupkan dengan menyentuhnya dengan tangan.” (Lih: Syarh Shahih Muslim, 9/15)

Hal yang sama dinyatakan oleh Syekh Mulla Qari tentang sabda Nabi: “(Ibnu Umar) menyentuh Hajar Aswad dengan tangannya, lalu ia mencium tangannya”, dengan mengatakan:

“Dan bisa jadi ini pada saat berdesakan.” (Lih: Mirqat al-Mafatih, 5/1795).

Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya:

“Anda telah menyebutkan bahwa orang yang tawaf itu disyariatkan untuk mencium Hajar Aswad dalam tawafnya jika memungkinkan. Jika tidak bisa menyentuh atau bertakbir, dan ini dalam putaran yang pertama. Jadi apa hukum putaran-putaran tersisa? Dan apakah hukumnya jika ia tidak melakukannya?”

Lalu beliau menjawab:

“Semua putaran itu hukumnya sama, dan jika ia tidak melakukannya maka tidak ada kewajiban apa-apa untuknya, karena takbir, mencium dan menyentuh adalah sunnah, karena tujuan utamanya adalah tawaf.” (Lih: Majmu’ Fatawa al-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 22/331)

Beliau rahimahullah menjawab:

“Semua sifat (cara) ini adalah ada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam…(Cara) yang paling utama adalah menyentuh dengan tangan dan mencium Hajar Aswad.

Lalu selanjutnya dengan menyentuh dengan tangan lalu mencium (tangan)nya.

Lalu dengan menyentuhnya dengan tongkat atau yang lainnya diikuti dengan menciumnya jika tidak mengganggu orang lain. Namun sunnahnya cara seperti ini hanya berlaku untuk orang yang berkendara sejauh yang kami ketahui.

Lalu setelah itu dengan cara memberikan isyarat.

Sehingga ini ada 4 urutan. Anda bisa lakukan ini satu demi satu, tanpa mengganggu dan menyusahkan orang lain.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’, 7/238)

Kesimpulannya:

Bahwa jika orang yang melakukan tawaf mampu mencium Hajar Aswad, atau menyentuhnya, tanpa menyakiti orang lain, maka disunnahkan baginya melakukan itu pada setiap putaran. Namun tidak wajib. Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/250472

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here