Soal:

Suami saya seorang wirausaha yang memiliki banyak tanggung jawab. Namun ia juga mempunyai seorang rekan partner yang dapat menggantikan posisinya jika ia berangkat menunaikan ibadah haji. Namun ada masalah lain: yaitu bahwa saya sedang hamil  dan (diperkirakan) akan melahirkan 6 pekan sebelum musim haji. Masalahnya adalah saya merasakan rasa sakit pada beberapa persendian yang membatasi kemampuan saya untuk bergerak. Tentu saja kondisi ini akan semakin buruk paska melahirkan, sementara tidak ada seorang pun anggota keluarga saya yang dapat mendampingi, kecuali suami saya.

Dengan begitu, menurut saya yang terbaik adalah jika suami saya menunda keberangkatan hajinya hingga tahun depan. Apakah alasan ini dibenarkan?

Jawaban:

Pertama:

Menjadi kewajiban seorang muslim: jika ia telah memiliki kesiapan untuk berhaji, maka hendaknya ia segera menunaikannya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تَعَجَّلُوا إِلَى الْحَجِّ – يَعْنِي الْفَرِيضَةَ – فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي مَا يَعْرِضُ لَهُ

“Bersegeralah kalian menunaikan haji –maksudnya: yang wajib-, karena seorang dari kalian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.” (HR. Ahmad no. 2721 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 990).

Juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ

“Barang siapa yang hendak berhaji, maka bersegeralah.” (Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 1524)

Kedua:

Jika seorang wanita (baca: istri) akan mengalami mudharat yang hampir bisa dipastikan terjadinya –bukan sekedar asumsi- dengan kepergian suaminya menunaikan kewajiban ibadah haji, maka dalam kondisi ini sang suami boleh menunda hajinya ke tahun depan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Dan menjadi kewajiban manusia kepada Allah untuk menunaikan haji ke Baitullah, bagi siapa yang mampu untuk menempuh jalan ke sana.”

Dan dengan adanya rasa khawatir terhadap istrinya, maka ia termasuk dalam kategori yang tidak mampu mengerjakannya.

Namun jika sang suami dapat meninggalkan seorang kerabat wanita atau pembantu yang dapat membantunya, maka ia wajib untuk berangkat menunaikan haji dengan tidak memperpanjang masa tinggalnya di Mekkah setelah mengerjakan ibadah haji.

Jika ini tidak memungkinkan sementara sang istri membutuhkan keberadaannya, maka tidak mengapa ia menunda haji, dan dengan demikian ia mempunyai udzur untuk itu.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/170799

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here