Soal:

Saudara saya sangat rindu untuk pergi haji, namun ia tidak mempunyai kemampuan secara finansial. Karena itu, saya memutuskan untuk membantunya. Saya kebetulan punya uang di bank, tapi saya lebih memilih untuk menyimpannya karena saya khawatir saya akan membutuhkannya untuk hal-hal yang lebih penting. Saya pun mengambil pinjaman di bank untuk membantu saudara saya itu.

Pertanyaan saya: apakah hukum niat baik yang saya lakukan itu? Apakah saya akan mendapatkan pahala, atau karena meminjam uang dari bank itu haram sehingga saya tidak mendapatkan kebaikan apapun dari perbuatan ini?

Bagaimana dengan ibadah haji saudara saya itu? Apakah dianggap sah selama bukan dia yang bertanggung jawab tentang sumber biaya (haji) tersebut?

Jawaban:

Pertama,

Memberikan bantuan keuangan kepada saudara atau orang lain untuk berhaji adalah sebuah amalan kebajikan yang agung; karena itu adalah upaya menolong orang lain untuk menunaikan ketaatan yang agung ini, yang dapat mengangkat derajat dan menghapuskan dosa. Tapi bantuan ini tak boleh menjadi sebab terjatuhnya Anda ke dalam apa yang diharamkan Allah Ta’ala; seperti mengambil pinjaman dari bank ribawi, karena riba itu masalahnya sangat besar. Terdapat ancaman terhadapnya yang tidak terdapat pada dosa dan kemaksiatan yang lainnya.

Maka menjadi kewajiban Anda untuk segera bertaubat kepada Allah Ta’ala dari berinteraksi dengan riba.

Ketahuilah, bahwa juga tidak boleh menabung di bank ribawi kecuali jika ada kekhawatiran akan (hilangnya) uang dan tidak adanya bank Islami. (Dan jika itu terpaksa dilakukan), maka tabungan itu harus tanpa bunga; karena dalam kaidah-kaidah Syariah bahwa “kondisi darurat membolehkan (untuk melakukan) hal-hal yang diharamkan”, (namun) “kondisi darurat itu harus ditakar sesuai dengan kadarnya” (maksudnya: perkara haram itu dilakukan sesuai dengan kebutuhan saja, tidak lebih-penj).

Kedua:

Ibadah haji saudara Anda in sya’aLlah sah, karena ia mengambil dana dari Anda melalui jalur yang mubah (halal); entah itu (karena Anda) menyedekahkannya, atau menghibahkannya, atau meminjamkannya secara syar’i (al-Qardh al-Hasan).

Sebagian ulama berpendapat bahwa harta yang diperoleh seseorang melalui jalur yang diharamkan –seperti riba- hanya diharamkan kepada orang yang mengupayakannya, namun tidak diharamkan bagi orang yang menerima harta itu darinya (selama) melalui jalur yang mubah, seperti: jual-beli, hadiah, atau semacamnya.

Sehingga pengharaman itu ditujukan terhadap apa yang Anda lakukan, yaitu: peminjaman uang dengan cara riba, dan tidak ditujukan kepada saudara Anda.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kami dan Anda kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/82659

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here