Soal:

Jika seorang yang berihram tidak melewati satu miqat pun, maka dari mana ia harus berihram?

Jawaban:

Jika ia tidak melewati salah satu dari miqat ini, maka ia hendaknya mencermati posisi yang selurus dengan miqat terdekat dengannya, untuk kemudian berihram darinya. Jika ia melewati jalan antara Yalamlam dan Qarn al-Manazil (misalnya), maka ia perhatikan mana yang terdekat dengannya. Jika ia sudah selurus dengan posisi yang terdekat dari salah satunya, maka ia mulai berihram dengan posisi yang sejajar itu.

Hal itu ditunjukkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah didatangi oleh penduduk Irak, lalu mereka berkata: “Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan miqat penduduk Nejd di Qarn (al-Manazil), tapi posisinya melenceng dan jauh dari jalan (yang) kami (tempuh).” Maka beliau mengatakan: “Perhatikanlah posisi yang sejajar dengan (miqat itu) dari jalan kalian.”

Jadi beliau memerintahkan mereka untuk melihat kesejajaran dengan Qarn al-Manazil, lalu berihram. Demikianlah yang disebutkan dalam Shahih al-Bukhari. Dan dalam ketetapan Umar radhiyallahu ‘anhu ini terdapat sebuah pelajaran yang penting, yaitu: bahwa orang-orang yang dari melalui jalur penerbangan dan berniat untuk berhaji atau umrah, lalu melintasi miqat-miqat tersebut –baik di atasnya, atau di kanannya, atau di kirinya, maka mereka wajib berihram saat telah sejajar/selurus dengan miqat-miqat tersebut. Dan mereka tidak boleh menunda ihram sampai turun dan mendarat di Jeddah –seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang-, karena ini menyelisihi apa yang ditetapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ

“Dan barang siapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka ia telah menzhalimi dirinya.” (al-Thalaq: 1)

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan barang siapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (al-Baqarah: 229)

Maka jika seseorang datang melalui jalur udara dan bermaksud menunaikan haji atau umrah, ia harus menyiapkan diri untuk berihram di dalam pesawat. Sehingga jika ia telah sejajar dengan miqat pertama yang dilaluinya; yaitu dengan meniatkan untuk mulai masuk dalam prosesi manasik serta tidak menundanya sampai tiba di Bandara Jeddah.

(Lih: Fatawa Ibn ‘Utsaimin, 21/276)

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/40965

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here