Soal:

Apa saja syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban tawaf?

Jawaban:

Para ulama menyebutkan beberapa syarat sah tawaf di seputar Ka’bah, yaitu:

  1. Islam: berdasarkan kesepakatan para ulama. Sehingga tidak sah tawaf yang dikerjakan oleh orang kafir, karena tawaf adalah ibadah, dan ibadah itu tidak sah dan tidak diterima dari orang kafir.
  2. Berakal: ini adalah madzhab Hanafiyah dan Hanabilah. Sementara Malikiyah dan Syafi’iyah tidak mempersyaratkan hal tersebut, dengan mengqiyaskan pada sahnya tawaf anak kecil yang belum mumayyiz jika walinya meniatkan hal tersebut untuknya.
  3. Niat: ini juga disepakati oleh para ulama, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

 “Amal-amal itu tidak lain bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

  1. Menutup aurat:maka jika ia melakukan tawaf dalam keadaan telanjang, maka tawafnya tidak sah, karena adanya perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diserukan pada musim haji:

“Jangan ada seorang musyrik pun yang berhaji sesudah tahun ini (yaitu tahun 9 H), dan jangan ada orang yang telanjang melakukan tawaf di Baitullah.” (HR. Al-Bukhari no. 369 dan Muslim 1347)

Syekh Ibn ‘Utsaimin mengatakan:

“Maka jika ia tawaf dalam keadaan telanjang, maka itu tidak sah; karena itu adalah tawaf yang terlarang. Dan jika ia sesuatu yang terlarang, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang mengerjakan satu amalan yang tidak berdasarkan perintah kami, maka ia akan tertolak.” (Lih: al-Syarh al-Mumti’ 7/257)

  1. Suci dari hadats.
  2. Kesucian pakaian dan badan dari najis menurut Jumhur ulama.
  3. Melakukan tawaf sebanyak 7 putaran yang sempurna. Maka jika putaran ketujuh (terakhir) kurang 1 langkah, maka tawafnya tidak sempurna.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Syarat tawaf itu harus 7 kali putaran. Satu kali putaran (terhitung) dari Hajar Aswad sampai (kembali ke) Hajar Aswad. Jika masih tersisa 1 langkah hingga genap 7 putaran, maka tawaf belum dianggap (sempurna sampai 1 langkah itu selesai-penj); baik itu ia masih berada di Mekkah atau sudah meninggalkannya dan berada di negerinya. Dan itu tidak bisa ditutupi dengan (membayar) dam, dan tidak juga dengan yang lainnya.” (Lih: al-Majmu’ 8/21)

  1. Memosisikan Baitullah di sebelah kirinya; karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tawaf dan memosisikan Baitullah di sebelah kirinya. Sementara beliau bersabda:

“Agar kalian mengambil cara manasik (haji) kalian (dariku).” (HR. Muslim no. 1297, dari hadits Jabir)

  1. Tawaf dilakukan di seluruh bagian Baitullah: Sehingga tidak boleh melakukan tawaf di bagian dalam Hijr Ismail untuk mempersingkat jarak. Maka siapa yang melakukan seperti itu, tawafnya tidak sah.
  2. Tawaf dilakukan dengan berjalan kaki jika mampu berjalan kaki: ini adalah pendapat Jumhur ulama, berbeda dengan pendapat kalangan Syafi’iyyah.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Yang kuat menurut saya adalah bahwa tidak boleh menggunakan tunggangan/tumpangan dalam tawaf; baik itu di atas hewan, atau pundak orang lain, atau kereta dorong; kecuali jika ada hajat. (Yang dimaksud) hajat adalah seperti sakit, usia lanjut, dan kepadatan yang sangat yang tidak bisa ditanggung oleh seseorang; karena ada orang yang bisa tahan dengan kepadatan manusia, adapula yang tidak. Intinya adalah jika ada udzur, maka tidak mengapa (menggunakan tunggangan). Jika tidak ada udzur, maka tidak boleh.” (Lih: Syarh Kitab al-Hajj min Shahih al-Bukhari 1/83 dengan penomoran al-Syamilah)

  1. Tidak memberturutkan antara putaran-putaran tawaf.
  2. Melakukan tawaf di dalam area Masjidil Haram; karena yang wajib atas seorang muslim adalah melakukan tawaf di Baitullah. Dan jika ia tawaf di luar area Masjidil Haram, maka ia hanya tawaf mengelilingi Masjid, bukan mengelilingi Baitullah.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Para ulama mengatakan: untuk sahnya tawaf dipersyaratkan dilakukan di dalam area Masjidil Haram, dan bahwa jika ia melakukan tawaf di luar area Masjidil Haram maka itu tidak boleh. Sehingga jika seseorang –misalnya- ingin melakukan tawaf di sekeliling Masjidil Haram dari luar, maka itu tidak boleh, karena jika demikian maka ia berarti melakukan tawaf di Masjidil Haram, bukan di seputar Ka’bah.

Adapun orang-orang yang mengerjakan tawaf tetap di dalam Masjidil Haram, baik di bagian atas ataupun bawah, maka tawaf mereka tetap sah. Dan atas dasar ini, maka harus berhati-hati untuk tidak melakukan tawaf di lokasi sa’i atau di atas lokasi sa’i; karena lokasi sa’i bukan merupakan bagian dari Masjidil Haram.” (Lih: Tafsir Surah al-Baqarah 2/49)

  1. Mengawali tawaf dari Hajar Aswad: sehingga jika ia memulai dari sisi pintu Ka’bah, maka tawafnya kurang dan tidak sah. Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

“Sebagian orang mengawali tawafnya dari sisi pintu Ka’bah dan tidak memulainya dari Hajar Aswad. Yang memulainya dari sisi pintu Ka’bah dan menyelesaikan tawafnya dengan cara seperti itu, berarti ia tidak bisa dianggap menyempurnakan tawafnya, karena Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di Baitul(Llah) yang tua’.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memulainya dari Hajar Aswad, dan beliau berpesan kepada manusia: ‘Hendaklah kalian mengambil cara manasik kalian dariku.’.

Maka jika ia memulai tawaf dari sisi pintu (Ka’bah) atau tidak menyejajari Hajar Aswad meskipun sedikit; maka putaran pertama yang dimulainya itu batal, karena tidak sempurna. Atas dasar ini maka ia harus menggantinya segera jika ia mengingatnya dalam waktu dekat. Jika tidak, maka ia harus mengulangi tawafnya dari awal.” (Lih: Majmu’ al-Fatawa, 22/204)

Inilah syarat-syarat tawaf yang (jika tidak terpenuhi) maka tawaf tidak sah tanpanya.

Adapun kewajiban-kewajiban tawaf, maka sebagian ulama berpendapat wajibnya mengerjakan shalat 2 rakaat sesudah tawaf. Namun pendapat yang benar adalah bahwa itu hukumnya sunnah yang dianjurkan, dan ini madzhab al-Syafi’i dan Ahmad.

Syekh Ibn Baz rahimahullah mengatakan tentang shalat 2 rakaat thawaf:

“Tidak harus (dikerjakan) di belakang Maqam. Shalat 2 rakaat ini boleh dilakukan di tempat manapun di area Masjidil Haram. Dan siapa yang lupa mengerjakannya, maka tidak mengapa, karena ia hukumnya sunnah dan tidak wajib.” (Lih: Majmu’ Fatawa Syekh Ibn Baz, 17/228)

Adapun kewajiban-kewajiban lain yang disebutkan oleh para ulama, maka itu sebagiannya masuk dalam syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya, hanya saja sebagian ulama menetapkannya sebagai kewajiban dan bukan persyaratan. Silahkan lihat tulisan berjudul: “Syuruth al-Thawaf” (Syarat-syarat Tawaf) oleh DR. Abdullah al-Zahim dalam Jurnal al-Buhuts al-Islamiyyah edisi. 53, serta tulisan lain berjudul: “Wajibat al-Thawaf” dalam jurnal yang sama edisi. 58.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/253569

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here