Soal:

Ibu saya meninggal dunia 4 tahun yang lalu. Sebelum meninggal, ia memiliki emas dan harta yang cukup. Ia pernah mengatakan pada kami, bahwa ia ingin menjual emasnya dan pergi menunaikan ibadah haji. Tapi ayah saya selalu menunda dan tidak punya niat berhaji meskipun ia punya harta dan kemampuan fisik. Setelah ibu saya wafat, kami anak-anaknya pun mengambil emas-emas tersebut dan mengatakan: bahwa kami akan menghajikan ibu kami in sya’aLlah.

Apakah ibu saya wajib berhaji? Apakah kami bisa mewakilkan mahasiswa yang sedang kuliah di Saudi untuk menghajikan mereka dengan memberikan sejumlah uang? Karena kami anak-anaknya saat ini tidak bisa menghajikan ibu kami, sementara kami juga tidak ingin menyimpan emas itu lebih lama.

Jawaban:

Pertama,

Siapa yang telah memenuhi syarat-syarat wajib berhaji, lalu ia tidak berhaji sampai meninggal dunia, maka wajib dikeluarkan dari hartanya sejumlah biaya agar ia dapat dihajikan.

Dan syarat wajib berhaji itu adalah kemampuan finansial dan fisik, ditambah lagi adanya mahram bagi wanita.

Maka jika ibu Anda mampu secara finansial dan fisik namun tidak ada mahram yang mendampinginya berhaji, maka ibadah haji belum wajib baginya, dan kalian dapat membagi (warisan) emas itu di antara kalian.

Tapi sangat dianjurkan jika salah seorang dari kalian menghajikannya, atau mewakilkan orang lain untuk menghajikannya.

Jika ibu Anda yang teledor dalam mengajak salah seorang mahramnya untuk berhaji bersamanya, sementara ia mempunyai dana yang cukup untuknya dan mahramnya, maka haji itu menjadi wajib dalam tanggungannya dan ia dihajikan dengan hartanya.

Dalam Mathalib Uli al-Nuha (2/291) disebutkan:

“Dan salah satu syarat wajib untuk mengupayakan haji atau umrah (bagi wanita adalah mahram), baik (wanita itu) seorang gadis ataupun tua, sebagaimana dinashkan oleh Imam Ahmad.

Mahram itu termasuk dalam bagian al-Sabil (baca: jalan yang harus ditempuh-penj), sehingga siapa yang tidak mempunyai mahram, ia tidak wajib berhaji secara sendiri maupun dengan mewakilkannya pada orang lain.

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas yang marfu’(Rasulullah bersabda):

‘Seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali bersama dengan mahram, dan ia tidak boleh ditemui kecuali bersamanya ada mahram.’ Seorang pria bertanya: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya akan keluar bersama dengan pasukan ini dan ini, sementara istri saya ingin berhaji.’ Maka Rasulullah bersabda: ‘Berhajilah bersamanya.’ (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih).

Lalu dari Abu Hurairah secara marfu’ (Rasulullah bersabda):

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan sejarak sehari-semalam tanpa dibersamai mahram.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)…

(Sehingga dipersyaratkan) untuk wajibnya seorang wanita berhaji: (kepemilikan bekal dan kendaraan) dengan kelengkapannya untuk (mereka berdua) yaitu sang wanita dan mahramnya…Jika ia tidak memilikinya untuk mereka berdua, maka (haji) tidak wajib baginya…

Dan jika mahramnya menolak untuk bepergian bersamanya, maka ia seperti orang yang tidak ada mahram, sehingga tidak ada kewajiban haji baginya.”

Kedua:

Tidak mengapa jika Anda mewakilkan orang lain untuk menghajikan ibu Anda pada mahasiswa yang sedang belajar di Mekkah, dengan syarat orang itu telah menunaikan haji untuk dirinya sendiri.

Perlu diketahui, bahwa banyak ulama yang mempersyaratkan bahwa sang naib (pengganti) itu hendaknya berhaji dari tempat dimana orang yang digantikan itu wajib berhaji, atau (setidaknya) dari miqatnya. Lihat: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 46/42.

Di antara para ulama juga ada mempermudah soal itu dan memperbolehkan sang naib melakukan ibadah haji pengganti itu meskipun langsung dari Mekkah.

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya terhadap kitab Zad al-Mustaqni’ yang menyatakan: “…dari tempat mana keduanya (haji atau umrah) menjadi wajib…”, beliau menjelaskan:

“Maksudnya: dari tempat dimana orang yang akan digantikan hajinya wajib untuk berhaji. Misalnya: jika ia adalah penduduk Madinah, berarti haji menjadi wajib baginya saat berada di Madinah, maka sang naib pun wajib bermukim di Madinah. Jika sang naib misalnya bermukim di Rabigh –salah satu miqat-, maka itu tidak dibenarkan. Apalagi jika sang naib bermukim di Mekkah. Jadi sang naib wajib mengerjakannya dari kampung dimana haji itu wajib bagi orang yang digantikan.

Alasannya adalah bahwa jika orang yang digantikan itu ingin berhaji sendiri, maka ia akan berhaji dari kampungnya –yaitu Madinah-, maka begitu pula seharusnya sang naib.

Namun pendapat ini lemah, karena orang yang digantikan memang wajib mengerjakan di kampungnya, karena ia tidak mungkin berjalan satu langkah pun hingga sampai ke Mekkah kecuali dengan meninggalkan kampung halamannya.

Karena itu, jika orang yang digantikan hajinya itu berada di Mekkah telah berangkat ke sana bukan untuk tujuan haji –misalnya untuk belajar atau yang lainnya-, lalu ia ingin berihram untuk ibadah haji dari Mekkah: apakah kita memperbolehkannya melakukan hal itu, atau kita katakan padanya: “Pergilah kembali ke Madinah, karena Anda adalah penduduk Madinah sebab haji menjadi wajib Anda di Madinah”?

Kami akan mengatakan: tidak mengapa Anda berihram untuk haji dari Mekkah.

Karena itu, tidak mengapa sang naib berihram dari Mekkah, meskipun perjalanan dari Madinah ke Mekkah tidak murni dimaksudkan (untuk berhaji), tetapi dimaksudkan untuk tujuan lain…

Maka pendapat yang kuat adalah bahwa orang yang akan digantikan hajinya tidak harus memukimkan naibnya dari tempatnya berada, karena ia boleh menggantikan haji orang lain dari Mekkah. Itu tidak mengapa…” (Lih: al-Syarh al-Mumti’ 7/33)

Komisi Tetap Fatwa Saudi Arabia (al-Lajnah al-Da’imah) pernah ditanya tentang penduduk Afrika yang ingin membayar seseorang untuk menghajikan ibunya, lalu dijawab:

“Diperbolehkan bagi orang tersebut untuk menunjuk orang lain di Mekkah atau di tempat lain, yang terpercaya untuk menghajikan ibunya, jika sang ibu telah wafat atau tidak mampu melakukan haji sendiri secara langsung; karena usia lanjut atau penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya. Wabillahit-taufiq…” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah 11/80)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/276493

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here