Soal:

Salah seorang kerabat saya mengalami kebotakan hampir penuh dan ia ingin menggunakan rambut palsu –yang memakai teknologi baru hingga memungkinkan menempelkan rambut palsu pada lapisan rambut hingga tidak perlu dilepaskan setiap hari. Namun kami tidak tahu bagaimana hukum syara’ tentang itu? Bagaimana pula hukum-hukum lain terkait itu, seperti mandi dan wudhu?

 

Jawaban:

Pertama:

Kebotakan pada pria tidaklah merupakan sebuah air, berbeda dengan kaum wanita. Karena itu, tidak tampak (secara syar’i) ada keringanan bagi pria untuk memakai rambut palsu karenanya. Bahkan meskipun atas dasar pendapat yang meringankan hal itu untuk kaum wanita demi menutupi penampilan yang buruk dan aib bagi mereka.

Syekh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan:

“Tidak diperbolehkan memakai rambut palsu bagi pria dan juga wanita. Adapun bagi wanita, karena di dalamnya unsur penipuan dan kamuflase, hingga yang melihatnya mengira bahwa penampilan (sebenar)nya memang demikian dan rambut itu adalah rambut aslinya, padahal tidak demikian adanya. Itu adalah sebuah penipuan dan pengaburan.

Adapun bagi pria, maka itu tidak dibenarkan sama sekali dalam kondisi apapun. Wanita –misalnya- bisa saja diperbolehkan menggunakan rambut palsu jika memang pada dasarnya ia tidak punya rambut sama sekali –seperti jika rambutnya tidak pernah tumbuh-, karena ia berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan. Namun pria, maka ia sama sekali tidak boleh menggunakan rambut palsu.” (Lih. Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan, 1/75)

 

Kedua:

Siapa yang menggunakan rambut palsu secara haram, maka ia tidak boleh mengusapnya pada saat berwudhu, karena rukhsah (keringanan) tidak boleh diamalkan karena alasan perbuatan maksiat.

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

“Maka jika khuf itu berasal dari yang diharamkan –seperti terbuat dari sutra-, maka tidak diperbolehkan mengusapnya berdasar pendapat yang shahih dalam madzhab (Hanbaly-penj). Jika ia mengusapnya lalu mengerjakan shalat, ia harus mengulangi bersuci dan shalatnya, karena ia telah berdosa dengan mengenakannya, sementara dosa tidak membenarkan (seseorang) mengambil rukhshah; sebagaimana seorang musafir tidak dibenarkan mengambil rukhshah-rukhsah dalam perjalanan jika melakukan perjalanan maksiat. Jika ia melakukan perjalanan maksiat, maka ia tidak boleh mengusap khufnya lebih dari sehari-semalam; karena (mengusap khuf) sehari-semalam tidak khusus untuk perjalanan dan tidak termasuk dalam rukhshahnya, sehingga (melakukannya) seolah-olah bukan termasuk rukhshah. Berbeda jika lebih dari sehari-semalam, karena itu sudah termasuk keringanan dalam perjalanan, sehingga tidak diperbolehkan untuk perjalanan karena maksiat, seperti (juga) melakukan qashar dan jamak.” (Lih. Al-Mughni, 1/214)

Kemudian beliau mengatakan sesudah itu:

“Sorban yang diharamkan –seperti sorban sutra dan sorban curian- tidak boleh diusap, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan tentang (menggunakan) khuf curian. Jika seorang wanita menggunakan sorban, maka ia pun tak boleh mengusapnya, berdasarkan penjelasan kami bahwa itu menyerupai kaum pria sehingga diharamkan baginya. Jika ia mempunyai udzur untuk itu –dan ini jarang- maka ini tidak terkait dengan hukum tersebut.” (Lih. Al-Mughni, 1/222)

Jika ini terkait dengan keringanan pada khuf dan sorban –dan keduanya memiliki hukum asal (dalam Syariat), dijelaskan dalam al-Sunnah, maka keringanan (rukhshah) dalam kasus-kasus turunannya (seperti rambut palsu-penj) sekurang-kurangnya diqiyaskan pada keduanya. (Artinya jika rambut palsu itu haram digunakan, maka haram pula mengusapnya dalam wudhu-penj).

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/205282

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here