Soal:

Apa hukumnya bila saya mandi dengan niat agar dapat mengerjakan shalat tanpa meniatkan mengerjakan kewajiban mandi? Begitu pula –bagaimana- jika berwudhu dengan niat seperti itu? Bagaimana pendapat Jumhur ulama dalam hal itu –jika memang ada perbedaan pendapat dalam masalah itu-?

 

Jawaban:

Orang yang berwudhu atau mandi karena mengalami hadats besar dengan niat agar dapat dapat mengerjakan shalat, atau dengan niat menghapuskan hadats: maka hal itu dibenarkan, dan wudhu serta mandinya sah. Hal ini dinyatakan oleh para ulama dari keempat madzhab.

Badr al-Din al-‘Aini al-Hanafy rahimahullah dalam al-Binayah Syarh al-Hidayah (1/234) menyatakan:

“Niat(nya) adalah keinginan agar dapat mengerjakan shalat dengan wudhunya itu, atau meniatkan (untuk mengerjakan) satu ibadah yang tidak sah tanpa bersuci (thaharah), atau berniat ingin menjalankan perintah (Allah). Demikianlah yang dikatakan oleh (al-Imam) Fakhr al-Islam. (Ada juga yang berpendapat) bahwa ia (hendaknya) berniat menghapuskan hadats atau agar dapat mengerjakan shalat.”

 

Syihab al-Din al-Nafrawy al-Maliky rahimahullah mengatakan dalam al-Fawakih al-Dawany (1/111) mengatakan:

“Mandi adalah menyampaikan air ke seluruh tubuh sambil menggosoknya, dengan niat agar dapat mengerjakan shalat.”

 

Ibnu Syasi al-Maliky rahimahullah mengatakan:

“Cara berniat adalah dengan meniatkan untuk menghapuskan hadats, atau (meniatkan untuk mengerjakan sesuatu) yang tidak dapat dilakukan kecuali dengan bersuci.” (Lih: al-Taj al-Iklil, 1/331)

 

Abu al-Hasan al-Mawardi al-Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam al-Hawi al-Kabir (1/94):

“Cara berniat adalah dengan memilih antara meniatkan salah satu dari 3 hal: menghapuskan hadats, atau agar dapat mengerjakan shalat, atau bersuci untuk melakukan apa yang tidak sah dikerjakan tanpa bersuci.”

 

Syams al-Din al-Zarkasyi al-Hanbaly rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Mukhtashar al-Khiraqy (1/314):

“Termasuk dalam kategori niat wudhu dan mandi adalah jika seseorang berniat agar dapat mengerjakan shalat, atau sebuah perintah yang tidak dapat dikerjakan kecuali dengan keduanya (wudhu dan mandi), seperti: menyentuh mushaf.”

 

Disebutkan pula dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (31/207):

“Kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah berpandangan bahwa niat itu wajib pada saat mandi (junub), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا الأْعْمَال بِالنِّيَّاتِ

‘Amal itu tak lain bergantung pada niatnya.’

Dan untuk itu, ia cukup meniatkan untuk menghapuskan hadats besar, atau meniatkan agar dapat mengerjakan shalat dan semacamnya.

Sementara kalangan Hanafiyah berpandangan bahwa niat dalam mandi (junub) adalah sunnah dan bukan sesuatu yang wajib.”

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/227020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here