Soal:

Saya pernah mengendarai mobil bersama ayah saya untuk pergi shalat Jum’at. Saya melihat suatu bagian dari tulang tumit ayah saya warnanya lebih terang dari warna kulit kakinya, tampak seperti belum terbasuh (air wudhu), tapi saya tidak menyampaikan apa-apa kepada ayah saya.

Apakah matakaki juga mencakup bagian keras yang tidak ditumbuhi bulu pada tulang yang menonjol (di kaki) atau tidak? Jika iya, maka apa yang harus saya lakukan (pada ayah saya-penj)?

 

Jawaban:

Pertama:

Dua matakaki adalah 2 tulang yang menonjol pada bagian bawah betis di kedua sisi pinggir kaki. Setiap kaki mempunyai 2 matakaki.

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (34/259) dijelaskan:

“…Matakaki seseorang adalah 2 tulang yang menonjol pada kedua sisi kaki. Al-Azhary mengatakan: ‘Dua matakaki adalah 2 tonjolan pada bagian belakang pertemuan betis dan kaki, pada sisi kanan dan kiri kaki.’

Ibnu al-A’raby dan sejumlah ulama mengatakan bahwa matakaki adalah pertemuan antara betis dan kaki.

Matakaki menurut Jumhur ulama (juga) adalah tulang yang menonjol pada pertemuan betis dan kaki.

Al-Syafi’i rahimahullah mengatakan: ‘Saya tidak mengetahui ada perbedaan pendapat tentang bahwa kedua matakaki adalah 2 tulang pada pertemuan persendian betis.’”

 

Kedua:

Membasuh kedua kaki bersama dengan kedua matakaki termasuk kewajiban dalam wudhu. Allah Ta’ala berfirman:

“…dan (basuhlah) kaki kalian sampai ke kedua matakaki…” (al-Ma’idah: 6)

Imam Muslim telah meriwayatkan (no. 246), dari Nu’aim bin Abdillah al-Mujmir, ia berkata:

“Saya telah melihat Abu Hurairah berwudhu, lalu beliau membasuh wajahnya hingga meratakan(nya) dengan wudhu. Kemudian ia membasuh tangan kanannya hingga sampai ke lengannya, lalu tangan kirinya hingga sampai ke lengannya. Kemudian ia mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga sampai ke betis, lalu membasuh kaki kirinya hingga sampai ke betis. Kemudian beliau berkata:

‘Demikianlah aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu.’”

 

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan:

“Perkataannya: ‘hingga sampai ke lengan’ dan ‘hingga sampai ke betis’ maksudnya beliau memasukkan keduanya dalam pembasuhan.”

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah (22/121) dijelaskan:

“Jumhur ulama berpendapat bahwa membasuh kedua kaki bersama dengan dua matakaki –yaitu kedua tulang yang menonjol pada pertemuan betis dan kaki-termasuk salah satu kewajiban dalam wudhu. Berdasarkan Firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

‘Wahai orang-orang beriman, jika kalian akan mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah dan kedua tangan kalian hingga ke siku, dan usaplah kepala kalian, lalu (basuhlah) kaki kalian hingga kedua matakaki…”

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan:

“Kedua matakaki adalah 2 tulang yang menonjol pada bagian bawah kaki. Kedua matakaki itu masuk dalam basuhan (wudhu) bersama dengan kaki.” (Lih: Majmu’ Fatawa wa Rasa’il al-‘Utsaimin, 12/484)

Syekh Ibn Jibrin rahimahullah mengatakan:

“Matakaki adalah tulang yang menonjol pada pertemuan betis dan kaki. Pada setiap kaki ada 2 matakaki di dua sisinya. Matakaki itu berakhir pada dengkul kaki…maka basuhan itu dilakukan sampai ke tempat itu.” (Lih: Syarh Akhshar al-Mukhtasharat, 2/4)

 

Kesimpulan:

Bahwa yang wajib adalah mencakupi kedua matakaki dan anggota wudhu lainnya dengan basuhan air wudhu. Sehingga jika orang yang berwudhu meninggalkan salah satunya, ia harus mengulangi wudhu dan shalatnya selama masih berada dalam waktunya.

Namun jika waktunya telah keluar, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa terhadap shalat-shalat yang lalu, kecuali jika ia melalaikannya atau ia sudah diingatkan namun mengabaikannya, maka yang seperti ini harus mengulangi shalat yang dilalaikannya.

Ulama dalam Komite Tetap Fatwa Arab Saudi mengatakan:

“Seseorang berkewajiban meratakan wudhunya pada seluruh anggota wudhunya. Maka jika ia meninggalkan salah satu anggota wudhunya yang tidak tersentuh air, ia wajib menyampaikan air (wudhu) itu ke bagian tersebut. Namun jika jedanya lama dan anggota wudhu itu sudah mengering, ia wajib mengulangi wudhunya. Jika ia mengerjakan shalat sebelum itu, maka ia wajib mengulangi wudhu dan shalatnya.” (Lih: Fatawa al-Lajnah al-Da’imah, 4/71-72)

Maka Anda berkewajiban untuk menyampaikan pada ayah Anda tentang hukum syar’i tersebut, dan bahwa ia harus meliputi kedua matakaki itu dengan basuhan (air wudhu), dan jika ia mengerjakan shalat tanpa meliputinya dengan basuhan, maka ia harus mengulangi shalatnya dengan wudhu yang sempurna dan sah.

Wallahu a’lam Ta’ala.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/200648

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here