Soal:

Ada seseorang yang ditimpa penyakit sering buang air kecil. Itu terjadi sekitar 30 kali dalam sehari. Dan setiap kali ia berhadats, ia akan berwudhu, dengan harapan mendapatkan berbagai keutamaan terkait itu yang ditunjukkan oleh Syariat. Apakah hukum perbuatan yang dilakukannya itu?

 

Jawaban:

Wudhu adalah salah satu ibadah agung yang dapat menambah kebaikan seorang mukmin dan menghapuskan dosa-dosanya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terdapat pula hadits yang menunjukkan bahwa menjaga wudhu adalah salah satu tanda keimanan. Ibnu Hibban meriwayatkan dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ

Tidak menjaga wudhu kecuali orang beriman.” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 115)

Jika itu digabungkan dengan shalat 2 rakaat sesudah setiap wudhu, maka itu salah satu sebab terbesar untuk masuk ke dalam Surga, berdasarkan apa yang diriwayatkan al-Tirmidzi (no. 3689), dari Buraidah, ia berkata:

“Ketika suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Bilal lalu bertanya:

يَا بِلَالُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الجَنَّةِ ؟ مَا دَخَلْتُ الجَنَّةَ قَطُّ إِلَّا سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي ، دَخَلْتُ البَارِحَةَ الجَنَّةَ ، فَسَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي؟

‘Wahai Bilal, apa yang membuatmu mendahuluiku ke surga? Tidaklah aku masuk ke dalam surga kecuali aku mendengarkan suara seretan sendalmu di depanku. Semalam aku masuk ke dalam Surga, lalu aku mendengarkan suara seretan sendalmu di depanku?’

Maka Bilal menjawab: ‘Wahai Rasulullah, tidak aku mengumandangkan adzan sekali pun melainkan aku mengerjakan shalat 2 rakaat (sesudahnya). Tidaklah aku mengalami hadats melainkan aku akan berwudhu saat itu. Dan saya kira Allah membalasku dengan itu karena shalat 2 rakaat itu.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan: ‘(Iya), karena kedua (rakaat) itulah.’” (Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Tirmidzi)

Atas dasar itu, maka pensyariatan wudhu pada setiap hadats itu telah ditetapkan, meskipun hadats itu berulang dalam jumlah yang banyak, selama tidak sampai batas menjatuhkan pada menyusahkan dan membebani. Maka kami berdoa kepada Allah Ta’ala menolongnya dalam melakukan ibadah ini, memberikannya pahala, dan membalas kepayahan yang dialaminya serta memasukkannya dalam golongan hamba yang selalu bertaubat dan mensucikan diri.

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/228989

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here