Soal:

Jika seorang wanita ingin memperbaharui wudhunya di dalam Mesjidil Haram pada tempat-tempat khusus karena untuk pergi ke kamar mandi sangat menyulitkan, khususnya pada musim haji dan umrah Ramadhan. Jadi apa yang harus dilakukannya? Karena meskipun ia berada di tempat khusus wanita, tapi kaum pria lalu-lalang di depannya. Sementara saat membasuh kedua tangannya, ia bisa saja mengusap tangannya di bawah lengan bajunya. Nah, apakah boleh saat mengusap kepala, ia cukup mengusap bagian depan kepala saja, lalu melewatkan kedua tangannya di atas kain penutup kepalanya (khimar)?

Mohon penjelasan tentang cara berwudhu dalam kondisi ini.

 

Jawaban:

Jika wanita tersebut terpaksa berwudhu di tempat yang dilalui kaum pria, maka memungkinkan baginya untuk berlindung di belakang wanita lain yang dapat menutupinya dari pandangan yang datang, atau dengan kain penutup lain yang dipegangi oleh kawannya, atau dengan membelakangi jalur yang dilalui hingga kaum pria tidak melihat apa yang tersingkap dari anggota tubuhnya saat berwudhu.

Adapun memasukkan tangannya di dalam lengan pakaiannya, maka itu tidak bisa menyempurnakan pembasuhan kedua tangan (dalam wudhu), karena yang wajib (dalam wudhu) adalah mengalirkan air pada anggota tubuh yang dibasuh disertai dengan meratakannya dengan basuhan. Dan itu tidak dapat dipenuhi jika ia membasuh tangannya yang masih dalam lengan bajunya.

Adapun mengusap kepala, maka tidak mengapa ia mengusap bagian depan kepalanya, lalu menyempurnakan usapan itu di atas khimar (kain penutup kepalanya). Jika wanita itu mengusap kain penutup kepalanya (tanpa mengusap bagian depan kepalanya-penj), maka sebagian ulama memberikan keringanan untuk itu, apalagi jika memang itu dibutuhkan.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

“Terkait usapan seorang wanita pada miqna’ah (yaitu: kain khimar yang melilit dari bawah leher)nya, terdapat 2 riwayat (pendapat):

Yang pertama, tidak boleh, karena dalil-dalil keringanan hanya mencakupi pria secara meyakinkan, sementara tercakupnya wanita (dengan dalil itu) diragukan; dan (juga) karena ia digunakan pada kepala wanita itu sebagai pelindung.

(Pendapat) kedua, dibolehkan, dan ini (pendapat) yang kuat. Berdasarkan keumuman sabda beliau: ‘Usaplah di atas kedua khuf dan khimar.’ Dan kaum wanita tercakup dalam pesan tersebut mengikuti kaum pria, sebagaimana tercakupnya mereka dalam hal mengusap kedua khufnya.

Imam Ahmad dan Ibnu al-Mundzir menyebutkan dari Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “bahwa ia pernah mengusap di atas kain khimarnya.” Andai beliau tidak mengetahui itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan nash atau kesimpulan, pastilah beliau tidak melakukan itu, dan beliau tentu lebih paham terhadap maksud Rasulullah.

Juga karena bagian kepala itu dibolehkan bagi pria untuk mengusap penutup kepala yang dikenakannya, maka dibolehkan pula bagi wanita seperti pria.

Dan juga karena (kain khimar) pakaian yang boleh dikenakan di kepala, biasanya sulit untuk dilepaskan, sehingga ia seperti serban yang digunakan pria.

Dan (argumentasi) yang paling kuat adalah karena kain khimar itu menutup lebih banyak dari serban pria, sehingga kesulitan melepaskannya lebih besar, maka kebutuhan seorang wanita untuk itu lebih besar dari (hajatnya untuk mengusap) kedua khufnya.” (Lih. Syarh al-‘Umdah, hal. 265)

Wallahu a’lam.

 

Sumber: https://islamqa.info/ar/240415

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here