Soal:

Apakah darah yang mengering pada luka-luka kecil di bagian anggota wudhu menghalangi sampainya air (wudhu)? Dan apakah wajib dibersihkan?

 

Jawaban:

Yang tampak dari penjelasan Anda adalah bahwa lapisan darah yang dimaksud adalah yang terdapat pada luka, dan hukum lapisan darah ini sama dengan hukum kulit, karena ia bersambung dengan badan dan akan menimbulkan mudharat jika dibersihkan. Sehingga cukup dibersihkan bagian atasnya dan tidak perlu dihilangkan.

Al-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam al-Majmu’ (2/232):

“Abu al-Laits al-Hanafi mengatakan dalam Nawazil-nya: (bahwa) jika pada tubuh seseorang terdapat luka, lalu (luka itu) terangkat juga lapisannya, dan bagian pinggir luka itu bersambung dengan kulit –selain bagian pinggir yang mengeluarkan nanah-sehingga ia terangkat dan air tidak dapat sampai ke bagian bawah kulit, maka wudhunya sah.”

Dalam Hasyiyah al-Bujairimy ‘ala al-Khathib (1/128) dijelaskan:

“Pendapat al-Qaffal (bahwa): bertumpuknya kotoran pada anggota tubuh tidak menghalangi sahnya wudhu; menjadi harus ditetapkan jika (kasusnya kotoran itu) telah menjadi bagian dari tubuh, sehingga tidak mungkin dilepaskan dari. Dan yang dimaksud ‘telah menjadi bagian (tubuh)’ adalah bahwa ia tidak dapat dibedakan lagi secara kasat mata.”

Maka jika kotoran itu melengket pada tubuh hingga (seperti) menjadi bagiannya yang tidak wajib dibersihkan, sehingga lapisan luka lebih layak lagi untuk dibersihkan daripada kotoran itu.

Wallahu a’lam.

 

 

Sumber: https://islamqa.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here