PORTAL-INSONESIA.CO.ID, ABU DHABI — Lembaga keuangan milik negara di Uni Emirat Arab, Al Hilal Bank, telah membuat sejarah dengan menjadi bank Islam pertama di dunia yang mengeksekusi transaksi Sukuk pada platform blockchain. Dalam kesepakatan pasar sekunder, Al Hilal Bank menggunakan teknologi blockchain (buku digital transaksi) untuk menjual kembali dan melunasi sebagian dari 0,5 miliar dolar AS sukuk yang diterbitkan dua bulan lalu dan dijadwalkan untuk jatuh tempo pada September 2023.

Menurut CEO Bank Al Hilal, Alex Coelho, mengintegrasikan blockchainke dalam penawaran sukuk akan membuat transaksi lebih aman sambil memastikan kepatuhan dengan hukum syariah. “Keuntungan menggunakan kontrak pintar berkisar dari transaksi yang lebih aman dengan kepatuhan syariah yang kuat, hingga membuka peluang baru,” kata Coelho dalam sebuah pernyataan, dilansir di CCN,Selasa (27/11).

Selain itu, sukuk cerdas akan meningkatkan efisiensi selama transaksi dan memotong biaya overhead yang timbul selama penerbitan dan settlement.

Meskipun Al Hilal dilaporkan sebagai bank Islam pertama yang mengeksekusi transaksi obligasi berbasis syariah di blockchain, ini bukan pertama kalinya obligasi reguler telah ditransaksikan pada blockchain.Pada akhir Agustus, Bank Dunia menyelesaikan transaksi obligasi dua tahun senilai 73 juta dolar AS di jaringan Ethereum.

Lembaga Bretton Woods memilih bank terbesar di Australia, Commonwealth Bank of Australia, sebagai satu-satunya pengatur obligasi yang dijuluki BONDI (Instrumen Utang Baru yang Dioperasikan Blockchain). Bank Dunia menerbitkan obligasi, yang dihargai dengan imbal hasil 2,251 persen, dengan pandangan mengumpulkan dana dari investor publik dan berinvestasi dalam kegiatan pembangunan di negara-negara berkembang.

Kurang dari dua bulan yang lalu, Austria mengumpulkan lebih dari satu miliar euro dalam lelang obligasi yang notarisasinya terjadi di blockchain.Menurut bank tujuan khusus Austria, Oesterreichische Kontrollbank AG, penggunaan teknologi blockchainmeningkatkan keamanan transaksi dan akibatnya menimbulkan keyakinan dalam proses lelang obligasi.

“Teknologi blockchain menawarkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan memastikan kualitas proses bank. Oleh karena itu, kami telah berurusan dengan topik ini secara intensif untuk beberapa waktu sekarang dan telah menguji beberapa prototipe. Memulai operasi nyata atas nama OeBFA adalah langkah berikutnya yang menyenangkan dan logis,” kata seorang eksekutif di Oesterreichische Kontrollbank AG, Angelika Sommer-Hemetsberger.

Awal tahun ini, raksasa perbankan Rusia Sberbank dan perusahaan telekomunikasi MTS mentransaksikan obligasi komersial pertama negara itu di blockchain. Obligasi senilai sekitar 12 juta dolar AS tersebut ditempatkan pada platform blockchain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here