Karena berangkat dari akar sejarah, budaya, dan agama yang berbeda, Islam dan Barat  memiliki kerangka worldview yang juga berbeda terhadap sumber ilmu. Kalangan Intelektual menyebutnya epistemologi ilmu, yaitu pembahasan mengenai cara mendapat ilmu, sumber­sumber  ilmu  dan  klasifikasi  ilmu, teori tentang  kebenaran, dan hal­hal  lain[1].

Secara epistemologi, dalam pandangan keilmuwan Barat, ilmu bersifat evolutif. Hal itu disebabkan epistemologi keilmuwannya dibangun di atas tiga aliran filsafat yang bantah-membantah, yaitu rasionalisme, empirisme, dan kritisisme.

Madzhab Rasionalisme dikaitkan filosof abad ke-17 dan 18, seperti Rene Descartes, Baruch Spinoza, dan Gottfried Leibniz, yang sebenarnya berasal dari pemikiran filsafat Yunani. Paham ini menyatakan bahwa pada hakikatnya ilmu itu bersumber dari akal budi manusia. Descartes berpendapat bahwa dalam jiwa manusia terdapat ide bawaan (innate ideas) yang dinamakan substansi yang sudah tertanam. Ide bawaan tersebut terdiri atas : pemikiran, Tuhan, dan keluasan (ekstensi). Adapun ilmu-ilmu lain yang dicapai manusia pada hakikatnya adalah derivasi dari ketiga prinsip dasar tersebut. Menurut aliran ini sumber ilmu adalah akal melalui deduksi ketat seraya mengabaikan pengalaman[2].

Mazhab kedua adalah empirisisme yang menekankan pentingnya pengalaman sebagai sarana pencapaian pengetahuan. Aliran ini dipelopori oleh Francis Bacon, sekalipun dalam pengertian tertentu pemikiran yang mengutamakan pendekatan empirik. Puncak pemikiran aliran ini terdapat pada pemikiran David Hume yang dalam karyanya A Treatise of Human Nature. Dalam buku tersebut David Hume mengupas persoalan-persoalan epistemologis penting. Berbanding terbalik dengan rasionalisme, mazhab ini  berpandangan bahwa seluruh isi pemikiran manusia berasal dari pengalaman, yang kemudian diistilahkan dengan persepsi. Persepsi, kemudian, dibagi menjadi dua macam, yaitu kesan-kesan (impressions) dan gagasan (ideas). Yang pertama adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Yang kemudian adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan. Derivasi ilmiah yang diakui oleh aliran ini adalah induksi terhadap fakta-fakta empiris[3].

Aliran ketiga adalah kritisisme yang merupakan usaha untuk mensintesa dua kutub ekstrim sebelumnya; rasionalisme dan empirisisme. Tokoh utama aliran ini adalah Immanuel Kant. Pemikiran yang disampaikan oleh Kant berusaha untuk mengakhiri perdebatan yang terjadi tentang objektivitas pengetahuan antara rasionalisme Jerman, yang diwakili Leibniz dan Wolff, dan Empirisisme Inggris. Dalam usahanya, Kant berusaha menunjukkan unsur mana saja dalam pikiran manusia yang berasal dari pengalaman dan unsur mana yang berasal dari akal. Berbeda dengan aliran filsafat sebelumnya yang memusatkan perhatian pada objek penelitian, Kant mengawali filsafatnya dengan memikirkan manusia sebagai subjek yang berpikir. Dengan demikian fokus perhatian Kant adalah pada penyelidikan rasio manusia dan batas-batasnya[4].

Dari ketiga madzhab di atas dapat disimpulkan bahwa, sumber-sumber ilmu menurut ilmuwan-ilmuwan barat hanya terbatas pada akal (rasio) dan panca indera. Mereka hanya menitikberatkan pada dua komponen ini. Sehingga hasilnya, makna ilmu terbatas pada objek-objek nyata. Sedangkan berita shahih yang datang dari wahyu mereka nafikan, dan tidak memasukkannya ke dalam defenisi ilmu. Akibatnya,   ilmu  pengetahuan  dan  nilai­nilai  etika  dan  moral,   yang  diatur   oleh  rasio   manusia,   terus  menerus  berubah[5].

Bagi pandangan keilmuwan Barat, sumber ilmu dibatasi pada hal-hal empirik dan rasional, dan membuang wahyu. Al-Attas menulis, Barat merumuskan pandangannya terhadap kebenaran dan realitas bukan berdasarkan kepada ilmu wahyu dan dasar-dasar keyakinan agama, tetapi berdasarkan pada tradisi kebudayaan yang diperkuat dasar-dasar filosofis. Dasar-dasar filosofis ini berangkat dari dugaan (spekulasi) yang berkaitan hanya dengan kehidupan sekulaer yang berpusat pada manusia sebagai diri jasmani dan hewan rasional manusia sebagai satu-satunya kekuatan yang akan menyingkap sendiri seluruh rahasia alam dan hubungannya dengan eksistensi, serta menyingkap hasil pemikiran spekulatif itu bagi perkembangan nilai etika dan moral yang berevolusi untuk membimbing dan mengatur kehidupannya[6].

Hal ini sangat jauh berbeda dengan sistem keilmuwan Islam. Di mana keilmuwan Islam lebih banyak berpijak pada al-Qur’an. Untuk melihat kerangka epistemologinya, bisa dicermati pada sebuah ayat yang mengandung makna suatu pertanyaan, seperti kata kaifa pada beberapa ayat Al- Qur’an, hal inilah yang meyakinkan adanya inspirasi tersebut. Kata kaifa tersebut yang biasanya dipakai untuk mengajukan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan keadaan dan cara (method). Hal ini bisa dicermati seperti; dalam ayat Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun (40) ayat 82, dan Surat Al-Gasyiyah (88) ayat 17-20. Ayat- ayat ini bukan hanya menjelaskan keadaan, melainkan mengandung sebuah maksud yang disebut dengan metode. Sedangkan metode tercakup dalam bahasan epistemologi[7].

Melihat ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung makna pertanyaan, maka ayat ini secara implisit tentu memberikan anjuran agar seseorang mempelajari metode untuk mendapat suatu pengetahuan. Dengan demikian epistemologi yang dimaksudkan dalam hal ini itu memiliki sandaran teologis Islam yang tertuang dalam kitab suci al-Qur’an. Di mana secara implisit cara atau metode untuk memperoleh pengetahuan itu benar adanya disinggung dalam kitab suci al- Qur’an.  Bangunan epistemologi ini bisa dipelajari dan dicermati dalam satu keilmuan Islam seperti dalam ilmu tasawuf, ilmu fiqih, ilmu kalam (teologi), akhlak, dan filsafat Islam. Disiplin keilmuan ini semuanya selalu merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber (episteme) nya[8].

Dalam sub tema “Filsafat Islam dan Tradisi Keilmuan Islam”, Syamsuddin Arif menjelaskan tentang sumber-sumber ilmu dan bagaimana meraihnya. Menurutnya,  ada tiga sumber ilmu yaitu persepsi indra (idrak al-hawass), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq).

Persepsi indrawi meliputi lima (pendengar, pelihat, perasa, pencium, penyentuh), plus indra keenam yang disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis yang menyertakan daya ingatan atau memori (dhakirah), daya penggambaran (khayal) atau imajinasi dan daya estimasi (wahm). Proses akal mencakup nalar (nazar) dan alur pikir (fikr) dengan nalar dan alur pikir ini anda bisa berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, melakukan analogi, membuat keputusan dan menarik kesimpulan. Selanjutnya, dengan intuisi qalbu seseorang dapat menangkap pesan-pesan gaib, isyarat-isyarat ilahi, menerima ilham, fath, kasyf, dan sebagainya. Sumber lain yang tak kalah pentingnya adalah khabar sadiq yang berasal dari dan bersandar pada otoritas. Sebuah khabar sadiq, apalagi dalam urusan agama, adalah wahyu (Kalam Allah dan Sunnah Rasul-Nya yang mutawatir) yang diterima dan diteruskan yakni ditransmit (ruwiya) dan ditransfer (nuqila) sampai akhir zaman.[9]


[1] Adnin Armas, Konsep Ilmu dalam Islam, Makalah, Depok, 2007, hal. 1

[2] Diakses dari http://anharnst.wordpress.com/2011/05/14/sumber-ilmu-dalam-perspektif-islam-dan-implikasinya-terhadap-isi-kurikulum-pendidikan-islam/ pada tanggal 16 Oktober 2012, pukul 21.36 WIB

[3] http://anharnst.wordpress.com

[4] Diakses dari Tentang Sumber-Sumber Pengetahuan: Antara Barat dan Islam tanggal 16 Oktober 2012, pukul 21.36 WIB

[5] Al-Attas dalam Adnin Armas, hal. 7

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Sekulerisme, Bandung: PIMPIN, 2011, hal 167

[7] Ainul Mubarok, Sumber-Sumber Ilmu, IAIN, 2007, hal. 56-57

[8] Ainul Mubarok, Sumber-Sumber Ilmu, hal. 57

[9] Syamsuddin Arif dalam Adian Husaini dkk, Filsafat Ilmu, Jakarta: GIP, tahun 2013, hal. 115

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here